<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/">
  <channel>
    <title>lanlunanit</title>
    <link>https://gratialuna.writeas.com/</link>
    <description></description>
    <pubDate>Sat, 04 Apr 2026 14:03:41 +0000</pubDate>
    <item>
      <title>407</title>
      <link>https://gratialuna.writeas.com/407?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Selesai makan malam, sekarang Gael, Adel, dan Sekar sedang duduk di ruang tengah. Mereka duduk bersebelahan dengan posisi Sekar di tengah-tengah Adel dan Gael. &#xA;&#xA;&#34;Adel.... Gael..., bunda sebelumnya mau minta maaf ke kalian.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Bunda nggak ada salah kenapa minta maaf?&#34; Ujar Adel tidak suka, Sekar terlalu banyak meminta maaf padahal ia tidak melakukan kesalahan apapun. &#xA;&#xA;Wanita itu tersenyum menanggapi ucapan anak pertamanya. &#34;Bunda nggak tau nih harus ngomong dari mana.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Emang tentang apa, sih, bun?&#34; &#xA;&#xA;Sekar tampak mengambil nafas dan mengeluarkannya perlahan. Masih dengan senyum di bibir tipisnya, ia berujar lembut. &#xA;&#xA;&#34;Akhir-akhir ini, Adel sama Gael terlalu khawatirin bunda, ya?&#34; Ia menatap kedua anaknya bergantian. &#xA;&#xA;&#34;Adel.... Bunda tau kamu terlalu memikirkan gimana bunda sama ayah kedepannya. Bunda juga tau kalo kamu sering bangun tengah malem dan duduk di balkon sendirian.&#34; Adel jelas terkejut mendengar ucapan Sekar barusan. Bunda tau dari mana? Batinnya. &#xA;&#xA;&#34;Gael.... Bunda juga tau kamu sering khawatir sama keadaan bunda dan Adel. Bunda tau seberapa besar rasa marah kamu ke ayah.&#34; Sekar meraih tangan Adel dan Gael lalu ia menggenggamnya.&#xA;&#xA;&#34;Bunda kenal anak bunda lebih dari siapapun. Bunda bisa tau apa yang lagi kalian pikirin tanpa harus dikasih tau, bunda tau kalau anak-anak bunda lagi sedih walaupun kalian berusaha menutupi itu dari bunda.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Oh iya, Adel pernah tanya ke bunda, katanya keluarga kita udah nggak harmonis lagi ya? Udah nggak ideal lagi?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Pertanyaan bunda gini, definisi keluarga yang harmonis itu apa sih? Keluarga yang ideal itu bagaimana sih?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Mungkin di kepala kita, gambaran simpelnya adalah disebuah keluarga itu ada satu orang ayah dan satu orang ibu yang akur, terus di dalamnya ada anak-anak yang bahagia, gitu ya?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Gini Del, setiap keluarga itu pasti punya permasalahannya masing-masing. Kita nggak bisa mengukur bagaimana harmonisnya suatu keluarga hanya dengan melihat luarnya aja. Ada yang kelihatannya baik-baik aja, tapi sebenernya mereka punya masalah yang cukup besar yang nggak kita sangka.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Disini bunda gak mau bahas soal ayah, bunda gak mau ngomongin hal-hal yang nggak seharusnya kalian dengar. Bunda justru pengen ngasih tau ke kalian, ada beberapa hal yang memang nggak bisa digenggam lagi sama tangan kita. Sekuat apapun kita berusaha menggenggam, kalau dia sekuat tenaga melepaskan, ada baiknya kita lepaskan. Karena apa? Karena sesuatu yang dipaksakan itu nggak akan baik hasilnya. Apalagi kalau memang sesuatu itu udah nggak baik untuk di pertahankan, kita harus bisa melepaskan. Adel..., Gael..., yang perlu kalian tau, ada banyak hal yang tetap terjadi meskipun tidak kita inginkan, ada banyak hal yang tidak ingin kita ketahui namun harus kita pelajari, dan akan ada orang-orang yang kita pikir akan selalu ada untuk kita, justru harus kita lepaskan.&#34; &#xA;&#xA;Kakak beradik itu paham akan kalimat perumpamaan yang bundanya ucapkan. Dan benar, ada kalanya kita harus berhenti menggenggam sesuatu yang memang sudah tidak ingin lagi kita genggam. Bukan perihal menyerah dengan keadaan, namun, terkadang beberapa orang yang hadir dalam hidup kita adalah orang-orang yang mengajari kita cara melepaskan dan merelakan. Karena bisa jadi, saat kita melepaskan, kita juga menciptakan ruang untuk sesuatu yang lebih baik. &#xA;&#xA;Masih dengan senyum yang menghiasi wajahnya, Sekar berujar lembut.&#xA;&#34;Kalo kata Shannon Alder, lupakan apa yang menyakitimu, tapi jangan pernah lupakan apa yang diajarkannya padamu.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Sekarang bunda pengen kalian fokus sama apa yang lagi kalian kerjain, soal bunda sama ayah biar jadi tugas kita. Kalian nggak usah terlalu mikirin ini, ya?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Adel sama Gael jangan terlalu berlarut soal ayah, sedih dan kecewa nggak papa kok. Tapi secukupnya aja. Fokus sama kebesaran-kebesaran Tuhan yang lain, fokus sama kebahagiaan yang udah Tuhan kasih ke kita. Dengan begitu, kita bakalan jadi manusia yang lebih bersyukur.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Manusia itu dinamis, bisa berubah kapan aja. Ayah..., dia berubah banyak. Dia banyak ngecewain kita, dia gak menepati janjinya, dia..., dia jahat. Tapi bunda gak mau kalau kalian mengingat ayah dengan segala hal buruk yang dia lakuin. Bunda pengen kalian menjadikan itu sebagai pelajaran, bahwa pada akhirnya, semua orang bisa saja mengecewakan. Maka dari itu, bunda minta sama kalian untuk mengendalikan seberapa besar harapan kalian pada seseorang. Dikendalikan, yaa? Karena kembali lagi, manusia bisa berubah kapan saja.&#34; &#xA;&#xA;Kedua mata Adel sudah berkaca-kaca, mungkin satu kedipan akan menjatuhkan cairan bening itu. Namun ia masih tetap mendengarkan Sekar. Begitupun Gael, ia menatap bundanya lekat, mencoba memahami setiap kata yang Sekar ucapkan. &#xA;&#xA;&#34;Dari tadi kita ngomongin soal manusia yaa? Sampai nggak sadar kalau kita juga sama-sama manusia.&#34; Sekar terkekeh pelan, mencoba mencairkan suasana. &#xA;&#xA;&#34;Kita manusia, kita juga bisa berubah kapan aja. Mungkin hari ini kita ngomong benci banget sama sesuatu, tapi ternyata cuma dalam waktu sehari, kita bisa cinta mati sama sesuatu itu. Setuju nggak?&#34; &#xA;&#xA;Adel dan Gael mengangguk, benar apa yang bunda katakan. Manusia itu dinamis, hidup juga dinamis. Tidak ada yang tahu hari esok akan seperti apa, kita hanya bisa berusaha melakukan yang terbaik. &#xA;&#xA;&#34;Maka dari itu, bunda pengen anak-anak bunda yang cantik dan ganteng ini untuk menjadi manusia baik, dimanapun dan kepada siapapun. Karena apa yang kita beri kepada orang lain akan kembali ke diri kita, baik akan berujung baik, buruk akan berujung buruk. Jadikan semua yang kalian dapet sebagai pelajaran.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Biarin ayah aja yang jahat ya? Kita nggak boleh ikut-ikutan jahat.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Bunda sayang banget sama kalian. Bunda pengen kasih yang terbaik buat kalian, tapi bunda juga bukan manusia sempurna, kita semua nggak ada yang sempurna. Kegagalan itu pasti ada, tinggal bagaimana cara kita menyikapinya. Bunda minta maaf udah memberikan gambaran yang buruk ke kalian tentang keharmonisan sebuah keluarga. Bunda mengaku bunda gagal, tapi bunda selalu berdoa semoga nanti Adel dan Gael menjadi orang tua yang berhasil untuk anak-anaknya.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Bunda ngomong ini ke kelian karna bunda tau kalau kalian udah dewasa, udah bisa mengerti apa yang bunda maksud.&#34; &#xA;&#xA;Adel memeluk Sekar dari samping, Gael juga melakukan hal yang sama. Sebenarnya, masih banyak sesuatu yang ingin Sekar sampaikan. Namun ia paham kalau hal-hal seperti ini harus disampaikan secara bertahap, biarkan anak-anaknya memproses satu-persatu kalimat yang ia ucapkan, biarkan mereka benar-benar memahami apa yang ia maksud. &#xA;&#xA;Ia selalu merasa gagal menjadi orang tua untuk Adel dan Gael, padahal mereka berdua tidak pernah mempunyai pikiran seperti itu. Bagi Adel dan Gael, Sekar adalah wanita paling hebat di dunia. Adel dan Gael menyayangi Sekar lebih dari apapun di dunia ini, begitupun Sekar. Ia menyayangi kedua anaknya melebihi apapun yang ada di dunia ini, termasuk rasa sayang Adel dan Gael itu sendiri.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>Selesai makan malam, sekarang Gael, Adel, dan Sekar sedang duduk di ruang tengah. Mereka duduk bersebelahan dengan posisi Sekar di tengah-tengah Adel dan Gael.</p>

<p>“Adel.... Gael..., bunda sebelumnya mau minta maaf ke kalian.”</p>

<p>“Bunda nggak ada salah kenapa minta maaf?” Ujar Adel tidak suka, Sekar terlalu banyak meminta maaf padahal ia tidak melakukan kesalahan apapun.</p>

<p>Wanita itu tersenyum menanggapi ucapan anak pertamanya. “Bunda nggak tau nih harus ngomong dari mana.”</p>

<p>“Emang tentang apa, sih, bun?”</p>

<p>Sekar tampak mengambil nafas dan mengeluarkannya perlahan. Masih dengan senyum di bibir tipisnya, ia berujar lembut.</p>

<p>“Akhir-akhir ini, Adel sama Gael terlalu khawatirin bunda, ya?” Ia menatap kedua anaknya bergantian.</p>

<p>“Adel.... Bunda tau kamu terlalu memikirkan gimana bunda sama ayah kedepannya. Bunda juga tau kalo kamu sering bangun tengah malem dan duduk di balkon sendirian.” Adel jelas terkejut mendengar ucapan Sekar barusan. <em>Bunda tau dari mana?</em> Batinnya.</p>

<p>“Gael.... Bunda juga tau kamu sering khawatir sama keadaan bunda dan Adel. Bunda tau seberapa besar rasa marah kamu ke ayah.” Sekar meraih tangan Adel dan Gael lalu ia menggenggamnya.</p>

<p>“Bunda kenal anak bunda lebih dari siapapun. Bunda bisa tau apa yang lagi kalian pikirin tanpa harus dikasih tau, bunda tau kalau anak-anak bunda lagi sedih walaupun kalian berusaha menutupi itu dari bunda.”</p>

<p>“Oh iya, Adel pernah tanya ke bunda, katanya <em>keluarga kita udah nggak harmonis lagi ya? Udah nggak ideal lagi?”</em></p>

<p>“Pertanyaan bunda gini, definisi keluarga yang harmonis itu apa sih? Keluarga yang ideal itu bagaimana sih?”</p>

<p>“Mungkin di kepala kita, gambaran simpelnya adalah disebuah keluarga itu ada satu orang ayah dan satu orang ibu yang akur, terus di dalamnya ada anak-anak yang bahagia, gitu ya?”</p>

<p>“Gini Del, setiap keluarga itu pasti punya permasalahannya masing-masing. Kita nggak bisa mengukur bagaimana harmonisnya suatu keluarga hanya dengan melihat luarnya aja. Ada yang kelihatannya baik-baik aja, tapi sebenernya mereka punya masalah yang cukup besar yang nggak kita sangka.”</p>

<p>“Disini bunda gak mau bahas soal ayah, bunda gak mau ngomongin hal-hal yang nggak seharusnya kalian dengar. Bunda justru pengen ngasih tau ke kalian, ada beberapa hal yang memang nggak bisa digenggam lagi sama tangan kita. Sekuat apapun kita berusaha menggenggam, kalau dia sekuat tenaga melepaskan, ada baiknya kita lepaskan. Karena apa? Karena sesuatu yang dipaksakan itu nggak akan baik hasilnya. Apalagi kalau memang <em>sesuatu</em> itu udah nggak baik untuk di pertahankan, kita harus bisa melepaskan. Adel..., Gael..., yang perlu kalian tau, ada banyak hal yang tetap terjadi meskipun tidak kita inginkan, ada banyak hal yang tidak ingin kita ketahui namun harus kita pelajari, dan akan ada orang-orang yang kita pikir akan selalu ada untuk kita, justru harus kita lepaskan.”</p>

<p>Kakak beradik itu paham akan kalimat perumpamaan yang bundanya ucapkan. Dan benar, ada kalanya kita harus berhenti menggenggam sesuatu yang memang sudah tidak ingin lagi kita genggam. Bukan perihal menyerah dengan keadaan, namun, terkadang beberapa orang yang hadir dalam hidup kita adalah orang-orang yang mengajari kita cara melepaskan dan merelakan. Karena bisa jadi, saat kita melepaskan, kita juga menciptakan ruang untuk sesuatu yang lebih baik.</p>

<p>Masih dengan senyum yang menghiasi wajahnya, Sekar berujar lembut.
“Kalo kata Shannon Alder, lupakan apa yang menyakitimu, tapi jangan pernah lupakan apa yang diajarkannya padamu.”</p>

<p>“Sekarang bunda pengen kalian fokus sama apa yang lagi kalian kerjain, soal bunda sama ayah biar jadi tugas kita. Kalian nggak usah terlalu mikirin ini, ya?”</p>

<p>“Adel sama Gael jangan terlalu berlarut soal ayah, sedih dan kecewa nggak papa kok. Tapi secukupnya aja. Fokus sama kebesaran-kebesaran Tuhan yang lain, fokus sama kebahagiaan yang udah Tuhan kasih ke kita. Dengan begitu, kita bakalan jadi manusia yang lebih bersyukur.”</p>

<p>“Manusia itu dinamis, bisa berubah kapan aja. Ayah..., dia berubah banyak. Dia banyak ngecewain kita, dia gak menepati janjinya, dia..., dia jahat. Tapi bunda gak mau kalau kalian mengingat ayah dengan segala hal buruk yang dia lakuin. Bunda pengen kalian menjadikan itu sebagai pelajaran, bahwa pada akhirnya, semua orang bisa saja mengecewakan. Maka dari itu, bunda minta sama kalian untuk mengendalikan seberapa besar harapan kalian pada seseorang. Dikendalikan, yaa? Karena kembali lagi, manusia bisa berubah kapan saja.”</p>

<p>Kedua mata Adel sudah berkaca-kaca, mungkin satu kedipan akan menjatuhkan cairan bening itu. Namun ia masih tetap mendengarkan Sekar. Begitupun Gael, ia menatap bundanya lekat, mencoba memahami setiap kata yang Sekar ucapkan.</p>

<p>“Dari tadi kita ngomongin soal manusia yaa? Sampai nggak sadar kalau kita juga sama-sama manusia.” Sekar terkekeh pelan, mencoba mencairkan suasana.</p>

<p>“Kita manusia, kita juga bisa berubah kapan aja. Mungkin hari ini kita ngomong benci banget sama sesuatu, tapi ternyata cuma dalam waktu sehari, kita bisa cinta mati sama sesuatu itu. Setuju nggak?”</p>

<p>Adel dan Gael mengangguk, benar apa yang bunda katakan. Manusia itu dinamis, hidup juga dinamis. Tidak ada yang tahu hari esok akan seperti apa, kita hanya bisa berusaha melakukan yang terbaik.</p>

<p>“Maka dari itu, bunda pengen anak-anak bunda yang cantik dan ganteng ini untuk menjadi manusia baik, dimanapun dan kepada siapapun. Karena apa yang kita beri kepada orang lain akan kembali ke diri kita, baik akan berujung baik, buruk akan berujung buruk. Jadikan semua yang kalian dapet sebagai pelajaran.”</p>

<p>“Biarin ayah aja yang jahat ya? Kita nggak boleh ikut-ikutan jahat.”</p>

<p>“Bunda sayang banget sama kalian. Bunda pengen kasih yang terbaik buat kalian, tapi bunda juga bukan manusia sempurna, kita semua nggak ada yang sempurna. Kegagalan itu pasti ada, tinggal bagaimana cara kita menyikapinya. Bunda minta maaf udah memberikan gambaran yang buruk ke kalian tentang keharmonisan sebuah keluarga. Bunda mengaku bunda gagal, tapi bunda selalu berdoa semoga nanti Adel dan Gael menjadi orang tua yang berhasil untuk anak-anaknya.”</p>

<p>“Bunda ngomong ini ke kelian karna bunda tau kalau kalian udah dewasa, udah bisa mengerti apa yang bunda maksud.”</p>

<p>Adel memeluk Sekar dari samping, Gael juga melakukan hal yang sama. Sebenarnya, masih banyak sesuatu yang ingin Sekar sampaikan. Namun ia paham kalau hal-hal seperti ini harus disampaikan secara bertahap, biarkan anak-anaknya memproses satu-persatu kalimat yang ia ucapkan, biarkan mereka benar-benar memahami apa yang ia maksud.</p>

<p>Ia selalu merasa gagal menjadi orang tua untuk Adel dan Gael, padahal mereka berdua tidak pernah mempunyai pikiran seperti itu. Bagi Adel dan Gael, Sekar adalah wanita paling hebat di dunia. Adel dan Gael menyayangi Sekar lebih dari apapun di dunia ini, begitupun Sekar. Ia menyayangi kedua anaknya melebihi apapun yang ada di dunia ini, termasuk rasa sayang Adel dan Gael itu sendiri.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://gratialuna.writeas.com/407</guid>
      <pubDate>Sat, 26 Feb 2022 15:20:06 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>357</title>
      <link>https://gratialuna.writeas.com/357?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Gael tiba di apartemen Assa, kakinya melangkah menuju ke kamar gadis itu. Ia buka pintu berwarna putih itu perlahan dan menutupnya. Gael dapat langsung melihat Assa dengan posisi setengah berbaring—dan setengah duduk. Punggungnya ia sandarkan pada headboard kasur. Tangan kanannya masih sibuk menscroll ponsel sementara tangan kirinya berada di perut, menahan sakit. &#xA;&#xA;Gael jadi teringat Adel, kakak perempuannya itu seperti orang kesurupan saat period cramps. Entah berlebihan atau tidak, yang jelas Gael tahu dari beberapa sumber jika period memang sesakit itu. Gael mendadak menjadi adik yang menuruti segala permintaan kakaknya jika Adel minta dibelikan sesuatu. &#xA;&#xA;Ia melepas hoodienya, meletakannya di kursi dan berjalan menghampiri gadis itu. Assa tersenyum, meletakkan ponsel dan menggeser tubuh agar Gael dapat duduk di sebelahnya. &#xA;&#xA;&#34;Masih sakit?&#34; &#xA;&#xA;Assa mengangguk pelan, tangan lelaki itu bergerak merapihkan rambut gadisnya. Tangannya yang dingin—sehabis naik motor ia tempelkan di pipi Assa beberapa saat, entah apa tujuannya. &#xA;&#xA;&#34;Bentar ya? Aku ambil air hangat dulu ke dapur.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Jangan lama-lama.&#34; &#xA;&#xA;Gael mengangguk dan beranjak dari sana, biasanya Adel juga begitu, disuruh oleh bunda untuk banyak-banyak minum air hangat. Jadi lelaki itu cukup paham akan hal-hal semacam ini.&#xA;&#xA;Ia kembali dengan segelas air hangat dan menyuruh Assa untuk meminumnya. Gadis itu menurut, diminumnya air hangat itu hingga tersisa setengah. Gael meletakkan gelas tadi di meja sebelah kasur Assa—di samping kardus donat yang tadi sengaja ia beli dan kirimkan melalui jasa gofood karena ia sedang rapat BEM. &#xA;&#xA;&#34;Tiduran aja, jangan banyak gerak.&#34; Gael mengambil duduk di sebelah Assa. Kini posisi kaki mereka sama-sama terjulur lurus ke depan. &#xA;&#xA;Ia kemudian membawa kepala Assa agar menyandar di dadanya. Diusapnya rambut gadis itu pelan. &#34;Susah nggak duduk kaya gini? Mau tiduran aja?&#34; &#xA;&#xA;Masih dengan posisi berbantalan di dada Gael, Assa menggeleng pelan. &#34;Gini aja, nggak susah kok.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Oke, kalo pegel bilang, ya?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Kamu bilang juga kalo pegel.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Iya....&#34; &#xA;&#xA;&#34;Oh iya, kamu udah makan?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Udah.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Nasi?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Iya nasi, aku tadi goreng nugget sama sosis soalnya males masak. Terus donat yang dari kamu aku juga udah makan dua.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Oke pinter.&#34; &#xA;&#xA;Assa tersenyum lebar, ia kemudian melingkarkan kedua tangannya di pinggang Gael. Entah mengapa tiba-tiba dirinya merasa merepotkan Gael. &#34;Maaf ya, El? Makasih juga....&#34; &#xA;&#xA;Lelaki itu mengernyit bingung, &#34;buat apa?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Maaf udah ngerepotin.... Makasih udah mau direpotin....&#34; Ia berkata demikian karena merasa tidak enak sudah meminta Gael datang ke apartemennya, padahal lelaki itu baru saja pulang dari kampus. &#xA;&#xA;&#34;Nggak ada yang merasa direpotin, sayang. Malah waktu kamu bilang sakit tadi, aku langsung kaya oh aku harus kesana, pacarku lagi sakit, gitu.&#34; Ujar Gael dengan tulus, tangannya masih setia mengelus kepala Assa. &#xA;&#xA;&#34;Jadi kamu nggak ngerasa direpotin karna aku nyuruh kamu dateng kesini?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Enggak cantikkkk. Udah ah tidur, dilarang ngomong lagi.&#34; &#xA;&#xA;Assa menurut, namun beberapa detik setelah itu ia menepuk-nepuk dahinya sendiri. Gael terkekeh gemas, mengerti maksud gadisnya. Ia lalu mengecup lembut dahi Assa. Lelaki itu ikut memejamkan mata, menempelkan dagunya di pucuk kepala Assa dan mengeratkan pelukkannya.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>Gael tiba di apartemen Assa, kakinya melangkah menuju ke kamar gadis itu. Ia buka pintu berwarna putih itu perlahan dan menutupnya. Gael dapat langsung melihat Assa dengan posisi setengah berbaring—dan setengah duduk. Punggungnya ia sandarkan pada <em>headboard</em> kasur. Tangan kanannya masih sibuk menscroll ponsel sementara tangan kirinya berada di perut, menahan sakit.</p>

<p>Gael jadi teringat Adel, kakak perempuannya itu seperti orang kesurupan saat period cramps. Entah berlebihan atau tidak, yang jelas Gael tahu dari beberapa sumber jika period memang sesakit itu. Gael mendadak menjadi adik yang menuruti segala permintaan kakaknya jika Adel minta dibelikan sesuatu.</p>

<p>Ia melepas hoodienya, meletakannya di kursi dan berjalan menghampiri gadis itu. Assa tersenyum, meletakkan ponsel dan menggeser tubuh agar Gael dapat duduk di sebelahnya.</p>

<p>“Masih sakit?”</p>

<p>Assa mengangguk pelan, tangan lelaki itu bergerak merapihkan rambut gadisnya. Tangannya yang dingin—sehabis naik motor ia tempelkan di pipi Assa beberapa saat, entah apa tujuannya.</p>

<p>“Bentar ya? Aku ambil air hangat dulu ke dapur.”</p>

<p>“Jangan lama-lama.”</p>

<p>Gael mengangguk dan beranjak dari sana, biasanya Adel juga begitu, disuruh oleh bunda untuk banyak-banyak minum air hangat. Jadi lelaki itu cukup paham akan hal-hal semacam ini.</p>

<p>Ia kembali dengan segelas air hangat dan menyuruh Assa untuk meminumnya. Gadis itu menurut, diminumnya air hangat itu hingga tersisa setengah. Gael meletakkan gelas tadi di meja sebelah kasur Assa—di samping kardus donat yang tadi sengaja ia beli dan kirimkan melalui jasa gofood karena ia sedang rapat BEM.</p>

<p>“Tiduran aja, jangan banyak gerak.” Gael mengambil duduk di sebelah Assa. Kini posisi kaki mereka sama-sama terjulur lurus ke depan.</p>

<p>Ia kemudian membawa kepala Assa agar menyandar di dadanya. Diusapnya rambut gadis itu pelan. “Susah nggak duduk kaya gini? Mau tiduran aja?”</p>

<p>Masih dengan posisi <em>berbantalan</em> di dada Gael, Assa menggeleng pelan. “Gini aja, nggak susah kok.”</p>

<p>“Oke, kalo <em>pegel</em> bilang, ya?”</p>

<p>“Kamu bilang juga kalo <em>pegel.</em>“</p>

<p>“Iya....”</p>

<p>“Oh iya, kamu udah makan?”</p>

<p>“Udah.”</p>

<p>“Nasi?”</p>

<p>“Iya nasi, aku tadi goreng nugget sama sosis soalnya males masak. Terus donat yang dari kamu aku juga udah makan dua.”</p>

<p>“Oke pinter.”</p>

<p>Assa tersenyum lebar, ia kemudian melingkarkan kedua tangannya di pinggang Gael. Entah mengapa tiba-tiba dirinya merasa merepotkan Gael. “Maaf ya, El? Makasih juga....”</p>

<p>Lelaki itu mengernyit bingung, “buat apa?”</p>

<p>“Maaf udah ngerepotin.... Makasih udah mau direpotin....” Ia berkata demikian karena merasa tidak enak sudah meminta Gael datang ke apartemennya, padahal lelaki itu baru saja pulang dari kampus.</p>

<p>“Nggak ada yang merasa direpotin, sayang. Malah waktu kamu bilang <em>sakit</em> tadi, aku langsung kaya <em>oh aku harus kesana, pacarku lagi sakit,</em> gitu.” Ujar Gael dengan tulus, tangannya masih setia mengelus kepala Assa.</p>

<p>“Jadi kamu nggak ngerasa direpotin karna aku nyuruh kamu dateng kesini?”</p>

<p>“Enggak cantikkkk. Udah ah tidur, dilarang ngomong lagi.”</p>

<p>Assa menurut, namun beberapa detik setelah itu ia menepuk-nepuk dahinya sendiri. Gael terkekeh gemas, mengerti maksud gadisnya. Ia lalu mengecup lembut dahi Assa. Lelaki itu ikut memejamkan mata, menempelkan dagunya di pucuk kepala Assa dan mengeratkan pelukkannya.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://gratialuna.writeas.com/357</guid>
      <pubDate>Fri, 18 Feb 2022 07:28:20 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>346</title>
      <link>https://gratialuna.writeas.com/346?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Jam satu dini hari, Gael tiba-tiba merasa haus dan beranjak dari kamarnya menuju ke dapur. Ia melawati kamar Adel yang pintunya tidak ditutup. Tumben sekali, batinnya. &#xA;&#xA;Setelah meminum air dingin, cowok itu langsung kembali ke lantai dua. Ketika hendak menutup pintu kamar Adel, ia tak sengaja mendapati jendela yang terhubung dengan balkon terbuka. Gael masuk ke dalam kamar dan berjalan menuju ke jendela balkon, ia melihat Adel sedang duduk membelakanginya. &#xA;&#xA;&#34;Belom tidur?&#34; Gael ikut duduk di samping Adel, di lantai dingin tanpa beralaskan karpet. &#xA;&#xA;Wanita berusia 23 tahun itu mendongak kaget, &#34;lo ngapain ke sini?&#34; Tanyanya dengan nada sedikit jengkel. &#xA;&#xA;&#34;Tadi gue abis minum dari dapur, terus liat kamar lo kebuka. Eh jendela balkon juga kebuka, terus gue liat lo di sini.&#34; Jelasnya panjang lebar dengan suara yang sedikit berat, maklum, jam satu dini hari. &#xA;&#xA;Adel menghembuskan nafas kasar. &#34;Udah ah sana tidur!&#34; &#xA;&#xA;&#34;Lo abis nangis ya?&#34; Gael memajukan wajahnya, menyadari bengkak dan kemerahan di mata kakak perempuannya itu. &#xA;&#xA;Wanita itu mendorong bahu Gael pelan. Enggan adiknya tahu jika ia habis menangis. &#34;Nggak, udah ah sana-sana pergi!&#34; &#xA;&#xA;Gael memegang pergelangan tangan Adel, menariknya pelan. &#34;Siapa yang bikin lo nangis? Ngomong sama gue.&#34; Ujarnya dengan nada kesal. &#xA;&#xA;&#34;Gak usah sok jagoan deh, ah! Udah sana keluar!!&#34; Ia memalingkan wajah agar Gael tidak menatap matanya. &#xA;&#xA;&#34;Cowok lo?&#34; Gael menebak asal, membuat Adel berdecak kesal. &#xA;&#xA;&#34;Bukan!&#34; &#xA;&#xA;&#34;Bohong, gara-gara cowok lo, kan?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Bukan anjir!&#34; &#xA;&#xA;&#34;Ya terus siapa yang bikin lo nangis tengah malem gini Adeeeellll?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Ayah!&#34; Jawab Adel cepat. Ia menatap wajah Gael dan melihat respon cowok itu, rahangnya tiba-tiba mengeras. &#xA;&#xA;Gael mencoba mengatur nafasnya, &#34;kenapa? Lo diapain?&#34; &#xA;&#xA;Adel diam saja, masih belum menjawab. Tatapannya tiba-tiba kosong. Gael menghela nafas pelan, enggan memaksa jika Adel memang tidak ingin bercerita. &#xA;&#xA;Ia ikut menatap langit, mereka diam beberapa saat. Sibuk dengan pikiran masing-masing. Sampai akhirnya Gael tersenyum kecut, mengingat betapa menjijikkan perbuatan ayahnya. &#xA;&#xA;&#34;Ayah jahat ya, Del....&#34; Ujarnya pelan, sangaattttt pelan. Mungkin suaranya hanya satu oktaf lebih tinggi dari suara angin. Namun satu kalimat yang barusan Gael ucapkan itu berhasil membuat Adel kembali menangis. Gadis itu menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. &#xA;&#xA;Gael tiba-tiba menarik Adel ke pelukannya, tangannya mengusap punggung sang kakak pelan, mencoba menyalurkan ketenangan. Adel malah semakin terisak di pelukan adik laki-lakinya itu. &#xA;&#xA;--- &#xA;&#xA;Sepuluh menit sudah Adel menangis di pelukan Gael, keduanya diam. Gael tidak berniat menanyakan apapun, tidak ingin memaksa Adel bercerita. &#34;Gapapa kalo gamau ngomong apapun sekarang, tapi kapanpun lo mau cerita, gue siap dengerin.&#34; &#xA;&#xA;Gadis itu mengusap sisa air mata di kedua pipinya, lalu menghela nafas panjang. &#xA;&#xA;&#34;Tadi gue telfon ayah....&#34; &#xA;&#xA;Adel menatap Gael ragu, namun cowok itu mengangguk seolah mengatakan &#34;gapapa kalo mau cerita, cerita aja.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Gatau sih kenapa gue tiba-tiba telfon, tapi gue kangen banget. Beneran kangen banget sama ayah.&#34; &#xA;&#xA;Adel menggigit bibir bawahnya sesaat setelah menekan tombol &#34;call&#34; pada kontak ayahnya. &#xA;&#xA;&#34;Ya, halo....? Adel....?&#34; &#xA;&#xA;Suara di seberang sana tidak terdengar seperti biasanya, Adel tidak lagi merasakan kehangatan dari nada bicara Andre. &#xA;&#xA;&#34;Kenapa, Del...?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Ayah dimana?&#34; Suaranya bergetar menahan tangis, Adel rindu ayahnya. Ia paling dekat dengan Ayah, apapun ia ceritakan pada ayahnya. Usianya sekarang memang sudah dua puluh tiga tahun, namun ia tetap anak ayah. Ia tetap ingin diperhatikan oleh sang ayah. &#xA;&#xA;Andre terkekeh di sebrang sana, &#34;kenapa kok tiba-tiba tanya ayah dimana? Kangen ya?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Iya....&#34; Ia sudah tidak bisa menahan isaknya. &#xA;&#xA;&#34;Adel nangis?&#34; &#xA;&#xA;Gadis itu semakin terisak tidak menentu, jam setengah satu malam, ia tidak ingin menangis sebenarnya. Namun entah mengapa suara ayah di seberang sana benar-benar terasa jauh, sangat jauh. &#xA;&#xA;&#34;Ayah jahat, ayah nggak sayang sama Adel. Ayah nggak sayang sama bunda sama Gael. Ayah kenapa bohong? Kenapa jahat? Katanya ayah sayang sama—&#34; &#xA;&#xA;&#34;Mas....&#34; Adel mendengar suara perempuan yang memanggil ayahnya. Sesaat setelah itu, sambungan tiba-tiba terputus. &#xA;&#xA;Ia yakin jika itu adalah suara Santi. Ia sangat yakin. &#xA;&#xA;Ayahnya benar-benar sudah hilang, ayah yang selalu berusaha memberi kehangatan untuk keluarganya sudah hilang entah kemana. Adel benar-benar kehilangan ayahnya. &#xA;&#xA;&#34;Ayah udah nggak sayang sama kita.&#34; Adel menutup ceritanya dengan kelimat yang terdengar menyakitkan, sangat menyakitkan. &#xA;&#xA;Gael belum merespon apapun, ia masih setia mendengarkan cerita sang kakak. &#xA;&#xA;&#34;Gue selalu bertanya-tanya, El. Emang bunda salah apa sih sampe ayah selingkuh? Bunda kurang apa? Bunda kurang baik apa ke ayah? Bunda kurang sayang sama ayah? Bunda jago masak, bunda tuh istri dan ibu yang baik buat keluarganya. Kenapa ayah tega banget selingkuhin bunda....&#34; &#xA;&#xA;&#34;Del...,&#34; Gael menatap Adel lekat-lekat. &#xA;&#xA;&#34;He cheated because he wanted to, he lied because he could, Bunda did nothing to cause or deserve it. Nggak ada yang salah dari bunda, bunda nggak kurang apapun. Emang pada dasarnya Andre yang nggak tahu diri, dia brengsek, Del.&#34;&#xA;&#xA;Adel diam beberapa saat, benar apa yang Gael katakan. Bundanya tidak kurang apapun, bundanya tidak salah apapun. Memang pada dasarnya Ayahnya yang kurang ajar. Puluhan tahun menikah, ternyata lelaki itu tega membohongi keluarganya dan berselingkuh. &#xA;&#xA;Seseorang yang dahulu paling banyak memberi kehangatan, seseorang yang dulu paling dicari ketika sedang merasa lelah, seseorang yang dapat memberikan rasa nyaman serta aman kini malah menjadi orang yang paling menyakiti mereka. Gadis itu paham betul dengan istilah &#34;people change,&#34; tetapi sungguh ia tidak pernah mengira bahwa perubahannya dapat seekstrim itu. &#xA;&#xA;&#34;Tapi, kenapa bunda nggak benci ya sama ayah? Maksud gue, bunda nggak pernah yang marah atau maki-maki ayah....&#34;&#xA;&#xA;&#34;Lo pernah denger gak, &#34;you know you really love someone when you can&#39;t hate them for breaking your heart?&#34; Adel mengangguk pelan.&#xA;&#xA;&#34;Bunda dan dua puluh lima tahun pernikahannya sama ayah. Itu bukan waktu yang sebentar, they&#39;ve been through so much. kita nggak tahu apa yang bikin bunda bisa sebegitu sabar buat nahan semua emosi yang sebenernya bisa aja bunda keluarin. Bunda loves him so much, tapi dia nggak peduli sama sekali. Yang jahat di sini tetep ayah, dia nggak mikirin perasaan bunda sama lo.&#34; Adel paham yang dimaksud Gael, ia menepuk pelan punggung tangan adiknya &#34;Lo..., jangan jadi kaya ayah ya.&#34; &#xA;&#xA;Cowok itu tersenyum tipis. &#34;Gue nggak bisa memastikan apapun di dunia ini, bahkan gue nggak bisa mastiin satu jam kedepan gue masih hidup atau enggak. Tapi gue bisa mastiin ke diri gue sendiri, kalo gue gak akan ngelakuin hal sebrengsek itu. Nggak akan pernah, terlepas nanti siapa pasangan gue.&#34; &#xA;&#xA;Adel mendesis heran mendengar kalimat adiknya barusan. &#34;Jelek banget perumpamaan lo pake bawa-bawa mati segala.&#34; &#xA;&#xA;Gael hanya terkekeh renyah. &#34;Mensifestasi anak dengan orang tua yang semacam ini tuh, jangan sampai terulang lagi di keluarga kecilnya besok. Bener gak?&#34;&#xA;&#xA;Adel ikut terkekeh. &#34;Bener.&#34;&#xA;&#34;Oh iya, El, Assa..., Assa tau nggak? Kalo Ayah selingkuh?&#34; &#xA;&#xA;Gael mengernyit bingung, kenapa tiba-tiba Adel menanyakan hal itu? &#34;Belum.&#34; Jawabnya singkat. Iya belum, Assa belum tahu. Ia tidak memikirkan itu sekarang, namun pasti entah kapan waktunya, Gael mungkin akan menceritakannya nanti. &#xA;&#xA;&#34;Belum?&#34; Adel mengulang jawaban Gael dengan nada bertanya. &#34;Berarti lo ada niatan buat ngasih tau ke Assa?&#34; &#xA;&#xA;Lelaki itu semakin dibuat bingung, &#34;Ya... iya, mungkin. Emang kenapa?&#34; &#xA;&#xA;Terdengar helaan nafas panjang, Adel menoleh menatap Gael ragu. &#34;Gue gatau kenapa tiba-tiba ngerasa minder, El....&#34; &#xA;&#xA;&#34;Minder? Minder kenapa?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Gue takut kalo nanti keluarga cowok gue nggak mau menerima gue karna background orang tua kita yang nggak harmonis. Salah nggak sih gue punya pemikiran kaya gitu? Hahahahah gatau random banget emang.... Udah yuk tidur, makin dingin anginnya.&#34;&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>Jam satu dini hari, Gael tiba-tiba merasa haus dan beranjak dari kamarnya menuju ke dapur. Ia melawati kamar Adel yang pintunya tidak ditutup. <em>Tumben sekali,</em> batinnya.</p>

<p>Setelah meminum air dingin, cowok itu langsung kembali ke lantai dua. Ketika hendak menutup pintu kamar Adel, ia tak sengaja mendapati jendela yang terhubung dengan balkon terbuka. Gael masuk ke dalam kamar dan berjalan menuju ke jendela balkon, ia melihat Adel sedang duduk membelakanginya.</p>

<p>“Belom tidur?” Gael ikut duduk di samping Adel, di lantai dingin tanpa beralaskan karpet.</p>

<p>Wanita berusia 23 tahun itu mendongak kaget, “lo ngapain ke sini?” Tanyanya dengan nada sedikit jengkel.</p>

<p>“Tadi gue abis minum dari dapur, terus liat kamar lo kebuka. Eh jendela balkon juga kebuka, terus gue liat lo di sini.” Jelasnya panjang lebar dengan suara yang sedikit berat, maklum, jam satu dini hari.</p>

<p>Adel menghembuskan nafas kasar. “Udah ah sana tidur!”</p>

<p>“Lo abis nangis ya?” Gael memajukan wajahnya, menyadari bengkak dan kemerahan di mata kakak perempuannya itu.</p>

<p>Wanita itu mendorong bahu Gael pelan. Enggan adiknya tahu jika ia habis menangis. “Nggak, udah ah sana-sana pergi!”</p>

<p>Gael memegang pergelangan tangan Adel, menariknya pelan. “Siapa yang bikin lo nangis? Ngomong sama gue.” Ujarnya dengan nada kesal.</p>

<p>“Gak usah sok jagoan deh, ah! Udah sana keluar!!” Ia memalingkan wajah agar Gael tidak menatap matanya.</p>

<p>“Cowok lo?” Gael menebak asal, membuat Adel berdecak kesal.</p>

<p>“Bukan!”</p>

<p>“Bohong, gara-gara cowok lo, kan?”</p>

<p>“Bukan anjir!”</p>

<p>“Ya terus siapa yang bikin lo nangis tengah malem gini Adeeeellll?”</p>

<p>“Ayah!” Jawab Adel cepat. Ia menatap wajah Gael dan melihat respon cowok itu, rahangnya tiba-tiba mengeras.</p>

<p>Gael mencoba mengatur nafasnya, “kenapa? Lo diapain?”</p>

<p>Adel diam saja, masih belum menjawab. Tatapannya tiba-tiba kosong. Gael menghela nafas pelan, enggan memaksa jika Adel memang tidak ingin bercerita.</p>

<p>Ia ikut menatap langit, mereka diam beberapa saat. Sibuk dengan pikiran masing-masing. Sampai akhirnya Gael tersenyum kecut, mengingat betapa menjijikkan perbuatan ayahnya.</p>

<p>“Ayah jahat ya, Del....” Ujarnya pelan, <em>sangaattttt</em> pelan. Mungkin suaranya hanya satu oktaf lebih tinggi dari suara angin. Namun satu kalimat yang barusan Gael ucapkan itu berhasil membuat Adel kembali menangis. Gadis itu menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.</p>

<p>Gael tiba-tiba menarik Adel ke pelukannya, tangannya mengusap punggung sang kakak pelan, mencoba menyalurkan ketenangan. Adel malah semakin terisak di pelukan adik laki-lakinya itu.</p>

<hr/>

<p>Sepuluh menit sudah Adel menangis di pelukan Gael, keduanya diam. Gael tidak berniat menanyakan apapun, tidak ingin memaksa Adel bercerita. “Gapapa kalo gamau ngomong apapun sekarang, tapi kapanpun lo mau cerita, gue siap dengerin.”</p>

<p>Gadis itu mengusap sisa air mata di kedua pipinya, lalu menghela nafas panjang.</p>

<p>“Tadi gue telfon ayah....”</p>

<p>Adel menatap Gael ragu, namun cowok itu mengangguk seolah mengatakan <em>“gapapa kalo mau cerita, cerita aja.”</em></p>

<p>“Gatau sih kenapa gue tiba-tiba telfon, tapi gue kangen banget. Beneran kangen banget sama ayah.”</p>

<p><em>Adel menggigit bibir bawahnya sesaat setelah menekan tombol “call” pada kontak ayahnya.</em></p>

<p><em>“Ya, halo....? Adel....?”</em></p>

<p><em>Suara di seberang sana tidak terdengar seperti biasanya, Adel tidak lagi merasakan kehangatan dari nada bicara Andre.</em></p>

<p><em>“Kenapa, Del...?”</em></p>

<p><em>“Ayah dimana?” Suaranya bergetar menahan tangis, Adel rindu ayahnya. Ia paling dekat dengan Ayah, apapun ia ceritakan pada ayahnya. Usianya sekarang memang sudah dua puluh tiga tahun, namun ia tetap anak ayah. Ia tetap ingin diperhatikan oleh sang ayah.</em></p>

<p><em>Andre terkekeh di sebrang sana, “kenapa kok tiba-tiba tanya ayah dimana? Kangen ya?”</em></p>

<p><em>“Iya....”</em> Ia sudah tidak bisa menahan isaknya.</p>

<p><em>“Adel nangis?”</em></p>

<p><em>Gadis itu semakin terisak tidak menentu, jam setengah satu malam, ia tidak ingin menangis sebenarnya. Namun entah mengapa suara ayah di seberang sana benar-benar terasa jauh, sangat jauh.</em></p>

<p><em>“Ayah jahat, ayah nggak sayang sama Adel. Ayah nggak sayang sama bunda sama Gael. Ayah kenapa bohong? Kenapa jahat? Katanya ayah sayang sama—”</em></p>

<p><em>“Mas....” Adel mendengar suara perempuan yang memanggil ayahnya. Sesaat setelah itu, sambungan tiba-tiba terputus.</em></p>

<p><em>Ia yakin jika itu adalah suara Santi. Ia sangat yakin.</em></p>

<p><em>Ayahnya benar-benar sudah hilang, ayah yang selalu berusaha memberi kehangatan untuk keluarganya sudah hilang entah kemana. Adel benar-benar kehilangan ayahnya.</em></p>

<p>“Ayah udah nggak sayang sama kita.” Adel menutup ceritanya dengan kelimat yang terdengar menyakitkan, sangat menyakitkan.</p>

<p>Gael belum merespon apapun, ia masih setia mendengarkan cerita sang kakak.</p>

<p>“Gue selalu bertanya-tanya, El. Emang bunda salah apa sih sampe ayah selingkuh? Bunda kurang apa? Bunda kurang baik apa ke ayah? Bunda kurang sayang sama ayah? Bunda jago masak, bunda tuh istri dan ibu yang baik buat keluarganya. Kenapa ayah tega banget selingkuhin bunda....”</p>

<p>“Del...,” Gael menatap Adel lekat-lekat.</p>

<p><em>“He cheated because he wanted to, he lied because he could, Bunda did nothing to cause or deserve it.</em> Nggak ada yang salah dari bunda, bunda nggak kurang apapun. Emang pada dasarnya Andre yang nggak tahu diri, dia brengsek, Del.”</p>

<p>Adel diam beberapa saat, benar apa yang Gael katakan. Bundanya tidak kurang apapun, bundanya tidak salah apapun. Memang pada dasarnya Ayahnya yang kurang ajar. Puluhan tahun menikah, ternyata lelaki itu tega membohongi keluarganya dan berselingkuh.</p>

<p>Seseorang yang dahulu paling banyak memberi kehangatan, seseorang yang dulu paling dicari ketika sedang merasa lelah, seseorang yang dapat memberikan rasa nyaman serta aman kini malah menjadi orang yang paling menyakiti mereka. Gadis itu paham betul dengan istilah <em>“people change,”</em> tetapi sungguh ia tidak pernah mengira bahwa perubahannya dapat seekstrim itu.</p>

<p>“Tapi, kenapa bunda nggak benci ya sama ayah? Maksud gue, bunda nggak pernah yang marah atau maki-maki ayah....”</p>

<p>“Lo pernah denger gak, <em>“you know you really love someone when you can&#39;t hate them for breaking your heart?”</em> Adel mengangguk pelan.</p>

<p>“Bunda dan dua puluh lima tahun pernikahannya sama ayah. Itu bukan waktu yang sebentar, <em>they&#39;ve been through so much.</em> kita nggak tahu apa yang bikin bunda bisa sebegitu sabar buat nahan semua emosi yang sebenernya bisa aja bunda keluarin. Bunda loves him so much, tapi dia nggak peduli sama sekali. Yang jahat di sini tetep ayah, dia nggak mikirin perasaan bunda sama lo.” Adel paham yang dimaksud Gael, ia menepuk pelan punggung tangan adiknya “Lo..., jangan jadi kaya ayah ya.”</p>

<p>Cowok itu tersenyum tipis. “Gue nggak bisa memastikan apapun di dunia ini, bahkan gue nggak bisa mastiin satu jam kedepan gue masih hidup atau enggak. Tapi gue bisa mastiin ke diri gue sendiri, kalo gue gak akan ngelakuin hal sebrengsek itu. Nggak akan pernah, terlepas nanti siapa pasangan gue.”</p>

<p>Adel mendesis heran mendengar kalimat adiknya barusan. “Jelek banget perumpamaan lo pake bawa-bawa mati segala.”</p>

<p>Gael hanya terkekeh renyah. “Mensifestasi anak dengan orang tua yang semacam ini tuh, jangan sampai terulang lagi di keluarga kecilnya besok. Bener gak?”</p>

<p>Adel ikut terkekeh. “Bener.”
“Oh iya, El, Assa..., Assa tau nggak? Kalo Ayah selingkuh?”</p>

<p>Gael mengernyit bingung, kenapa tiba-tiba Adel menanyakan hal itu? “Belum.” Jawabnya singkat. Iya belum, Assa belum tahu. Ia tidak memikirkan itu sekarang, namun pasti entah kapan waktunya, Gael mungkin akan menceritakannya nanti.</p>

<p>“Belum?” Adel mengulang jawaban Gael dengan nada bertanya. “Berarti lo ada niatan buat ngasih tau ke Assa?”</p>

<p>Lelaki itu semakin dibuat bingung, “Ya... iya, mungkin. Emang kenapa?”</p>

<p>Terdengar helaan nafas panjang, Adel menoleh menatap Gael ragu. “Gue gatau kenapa tiba-tiba ngerasa minder, El....”</p>

<p>“Minder? Minder kenapa?”</p>

<p>“Gue takut kalo nanti keluarga cowok gue nggak mau menerima gue karna background orang tua kita yang nggak harmonis. Salah nggak sih gue punya pemikiran kaya gitu? Hahahahah gatau random banget emang.... Udah yuk tidur, makin dingin anginnya.”</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://gratialuna.writeas.com/346</guid>
      <pubDate>Fri, 18 Feb 2022 06:32:18 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title># #374</title>
      <link>https://gratialuna.writeas.com/374?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[&#xA;# #374&#xA;&#xA;Demi apapun sesaat setelah menerima direct message dari akun tidak jelas itu Assa langsung panik seketika. Kepalanya dipenuhi oleh pertanyaan-pertanyaan yang sebenarnya tidak masuk akal, namun entah mengapa tiba-tiba kekhawatiran itu muncul. &#xA;&#xA;Bagaimana jika Gael benar-benar sedang membohonginya? Bagaimana jika Gael sedang berada di cafe 7 dream bersama Linda? Bagaimana jika yang dikatakan oleh seseorang dibalik akun tanpa identitas itu benar? Bagaimana jika mereka benar-benar berpelukan? Dan masih banyak bagaimana jika lagi yang ada di kepala mungilnya itu. &#xA;&#xA;Ia langsung mengambil kunci mobil yang berada di atas nakas, entah apa yang tiba-tiba membuatnya securiga itu pada Gael. Namun mungkin bisa jadi karena mood yang tidak stabil because she&#39;s on her period right now. &#xA;&#xA;Ia mengemudikan mobilnya dengan kecepatan yang lebih tinggi dari biasanya. Meskipun di kecepatannya saat ini belum bisa dibilang ngebut, namun tetap saja Assa membahayakan dirinya karena mengemudi dengan emosi yang tidak stabil. &#xA;&#xA;Cafe 7 dream terletak tidak jauh dari apartemennya, jadi gadis itu hanya membutuhkan waktu sekitar delapan menit untuk sampai di sana. Assa langsung keluar dari mobil dan melangkah masuk ke dalam cafe, ia mengedarkan pandangan. Keadaan cafe yang cukup ramai membuatnya sedikit kesulitan mencari keberadaan Gael. Oversized t-shirt dan mid-length denim shorts yang ia kenakan sebenarnya tidak terlalu menjadi masalah, namun yang membuatnya sedikit diperhatikan lebih oleh pengunjung disana adalah cepolan rambut yang asal-asalan dan sandal we bare bears berbulu menjadikannya terlihat sedikit aneh. Ia benar-benar tidak sempat mengganti sandalnya, namun gadis itu tidak peduli, toh sandal ini bukan hasil curian. &#xA;&#xA;Beberapa menit ia mengedarkan pandangan ke seluruh sudut cafe, tetapi ia masih belum menemukan sosok yang dicari. Akhirnya gadis itu memutuskan untuk ke lantai dua, ia menaiki anak tangga dua-dua sekaligus. Sesampainya di anak tangga terakhir, Assa hampir saja terhayung ke belekang kalau saja tangannya tidak sigap menjangkau handrail. Ia benar-benar terkejut karena belasan orang—atau lebih—yang ada di sana menatapnya dengan tatapan heran. &#xA;&#xA;Terlihat ada beberapa meja yang disatukan dan mereka sepertinya sedang berdiskusi. Assa merasa familiar dengan wajah-wajah orang yang sedang menatapnya dengan wajah aneh dan bingung. Matanya menyapu semua sudut hingga akhirnya tatapannya bertemu dengan netra milik Gael. &#xA;&#xA;&#34;Hah dia siapa, deh?&#34;&#xA;&#34;Dia ngapain?&#34;&#xA;&#34;Itu anak kampus kita bukan, sih?&#34;&#xA;&#34;Lah itu ceweknya Gael, kan?&#34;&#xA;&#34;Oalah iya tuh dia pacarnya si Gael.&#34;&#xA;&#34;Anak teknik kimia gak sih?&#34;&#xA;&#34;Itu dia nyamperin Gael apa gimana? Gak sabaran banget deh orang ini masih rapat juga.&#34;&#xA;&#34;Iya dah aneh banget, mana main nyelonong gitu aja.&#34;&#xA;&#34;Gajelas banget anjrit.&#34;&#xA;&#xA;Kalimat-kalimat itu mulai terdengar di telinga Assa, sungguh ia ingin melarikan diri sekarang juga. Mengapa bisa dirinya sebodoh ini? Jelas-jelas Gael sudah bilang jika ia sedang rapat bersama anggota BEM, mengapa ia lebih mempercayai orang lain yang bahkan tidak ia kenal? Assa sedang meruntuki dirinya sendiri sekarang. &#34;Assa goblok banget lo dasar tolol.&#34; &#xA;&#xA;&#34;El? Cewek lo, kan?&#34; Tanya Erik, ia menatap Gael heran. Suaranya barusan cukup keras sehingga membuat semua orang yang berada disana—termasuk Assa—mendengarnya dengan jelas. &#xA;&#xA;Gael sendiri juga sama terkejutnya, namun ia tahu bahwa pasti ada hal lain yang membawa gadis itu kesini. Gael tahu dari ekspresi wajah Assa yang kebingungan saat ini. Kini semua pasang mata menatap dirinya, menunggu jawaban. &#xA;&#xA;&#34;Lo ngapain kesini?&#34; Belum sempat Gael menjawab, Farah, anak teknik elektro bertanya pada Assa dengan nada tidak bersahabat. &#xA;&#xA;&#34;Gue yang nyuruh cewek gue kesini.&#34; Ujar Gael menatap Farah datar, terganggu dengan nada yang ia ucapkan kepada Assa. &#xA;&#xA;&#34;Bentar Bang, gue mau nitipin jaket ke cewe gue dulu.&#34; Ia menepuk pundak Erik pelan dan mengambil jaket yang sebelumnya ia letakkan pada sandaran kursi dan beranjak dari sana. Ia langsung menghampiri Assa dan menggandeng tangan gadis itu, mengajaknya turun.&#xA;&#xA;--- &#xA;&#xA;&#34;Assa kenapa?&#34; Pertanyaan itu keluar dari mulut Gael dengan nada yang sangat halus. Lelaki itu yakin ada alasan yang membuat Assa tiba-tiba menghampirinya seperti tadi. Apalagi ia menyadari bahwa gadis itu masih mengenakan sandal rumahnya. Seburu-buru itukah? Batin Gael. &#xA;&#xA;Kini keduanya sudah berada di dalam mobil Assa, Gael duduk di driver&#39;s seat sementara sang pemilik duduk di passenger seat. Gadis itu menggigit bibir bawahnya. &#xA;&#xA;&#34;Gael pasti malu, Gael pasti malu, Gael pasti malu, Gael pasti malu.&#34; Ia terus mengulang kata itu dalam hati. &#34;Dasar begooooo!!!&#34; &#xA;&#xA;&#34;Mau pulang?&#34; Karena gadis di sampingnya ini tidak menjawab pertanyaanya, Gael lantas menawarkan Assa untuk pulang. Siapa tahu ia memang belum ingin mengatakan apapun sekarang. &#xA;&#xA;Assa mengangguk pelan, masih belum berani menatap Gael. Akhirnya ia mengantar gadis itu pulang. Tidak ada percakapan apapun, namun tangan kiri Gael mengenggam tangan kanan Assa selama perjalanan karena gadis itu terlihat meremas ujung baju yang ia kenakan. Gael masih belum bisa menebak apa yang membuat gadisnya sepanik ini, mungkin ia akan menanyakannya nanti setelah Assa merasa lebih tenang. Kini yang harus ia lakukan adalah mengantar Assa sampai ke dalam apartemennya dan kembali ke cafe untuk melanjutkan rapat.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<h1 id="374" id="374">#374</h1>

<p>Demi apapun sesaat setelah menerima <em>direct message</em> dari akun tidak jelas itu Assa langsung panik seketika. Kepalanya dipenuhi oleh pertanyaan-pertanyaan yang sebenarnya tidak masuk akal, namun entah mengapa tiba-tiba kekhawatiran itu muncul.</p>

<p>Bagaimana jika Gael benar-benar sedang membohonginya? Bagaimana jika Gael sedang berada di cafe 7 dream bersama Linda? Bagaimana jika yang dikatakan oleh seseorang dibalik akun tanpa identitas itu benar? Bagaimana jika mereka benar-benar berpelukan? Dan masih banyak <em>bagaimana jika</em> lagi yang ada di kepala mungilnya itu.</p>

<p>Ia langsung mengambil kunci mobil yang berada di atas nakas, entah apa yang tiba-tiba membuatnya securiga itu pada Gael. Namun mungkin bisa jadi karena <em>mood</em> yang tidak stabil <em>because she&#39;s on her period right now.</em></p>

<p>Ia mengemudikan mobilnya dengan kecepatan yang lebih tinggi dari biasanya. Meskipun di kecepatannya saat ini belum bisa dibilang <em>ngebut,</em> namun tetap saja Assa membahayakan dirinya karena mengemudi dengan emosi yang tidak stabil.</p>

<p>Cafe 7 dream terletak tidak jauh dari apartemennya, jadi gadis itu hanya membutuhkan waktu sekitar delapan menit untuk sampai di sana. Assa langsung keluar dari mobil dan melangkah masuk ke dalam cafe, ia mengedarkan pandangan. Keadaan cafe yang cukup ramai membuatnya sedikit kesulitan mencari keberadaan Gael. <em>Oversized t-shirt</em> dan <em>mid-length denim shorts</em> yang ia kenakan sebenarnya tidak terlalu menjadi masalah, namun yang membuatnya sedikit diperhatikan lebih oleh pengunjung disana adalah cepolan rambut yang asal-asalan dan sandal <em>we bare bears</em> berbulu menjadikannya terlihat sedikit aneh. Ia benar-benar tidak sempat mengganti sandalnya, namun gadis itu tidak peduli, toh sandal ini bukan hasil curian.</p>

<p>Beberapa menit ia mengedarkan pandangan ke seluruh sudut cafe, tetapi ia masih belum menemukan sosok yang dicari. Akhirnya gadis itu memutuskan untuk ke lantai dua, ia menaiki anak tangga dua-dua sekaligus. Sesampainya di anak tangga terakhir, Assa hampir saja terhayung ke belekang kalau saja tangannya tidak sigap menjangkau <em>handrail</em>. Ia benar-benar terkejut karena belasan orang—atau lebih—yang ada di sana menatapnya dengan tatapan heran.</p>

<p>Terlihat ada beberapa meja yang disatukan dan mereka sepertinya sedang berdiskusi. Assa merasa familiar dengan wajah-wajah orang yang sedang menatapnya dengan wajah aneh dan bingung. Matanya menyapu semua sudut hingga akhirnya tatapannya bertemu dengan netra milik Gael.</p>

<p>“Hah dia siapa, deh?”
“Dia ngapain?”
“Itu anak kampus kita bukan, sih?”
“Lah itu ceweknya Gael, kan?”
“Oalah iya tuh dia pacarnya si Gael.”
“Anak teknik kimia gak sih?”
“Itu dia nyamperin Gael apa gimana? Gak sabaran banget deh orang ini masih rapat juga.”
“Iya dah aneh banget, mana main nyelonong gitu aja.”
“Gajelas banget <em>anjrit.”</em></p>

<p>Kalimat-kalimat itu mulai terdengar di telinga Assa, sungguh ia ingin melarikan diri sekarang juga. Mengapa bisa dirinya sebodoh ini? Jelas-jelas Gael sudah bilang jika ia sedang rapat bersama anggota BEM, mengapa ia lebih mempercayai orang lain yang bahkan tidak ia kenal? Assa sedang meruntuki dirinya sendiri sekarang. <em>“Assa goblok banget lo dasar tolol.”</em></p>

<p>“El? Cewek lo, kan?” Tanya Erik, ia menatap Gael heran. Suaranya barusan cukup keras sehingga membuat semua orang yang berada disana—termasuk Assa—mendengarnya dengan jelas.</p>

<p>Gael sendiri juga sama terkejutnya, namun ia tahu bahwa pasti ada hal lain yang membawa gadis itu kesini. Gael tahu dari ekspresi wajah Assa yang kebingungan saat ini. Kini semua pasang mata menatap dirinya, menunggu jawaban.</p>

<p>“Lo ngapain kesini?” Belum sempat Gael menjawab, Farah, anak teknik elektro bertanya pada Assa dengan nada tidak bersahabat.</p>

<p>“Gue yang nyuruh cewek gue kesini.” Ujar Gael menatap Farah datar, terganggu dengan nada yang ia ucapkan kepada Assa.</p>

<p>“Bentar Bang, gue mau nitipin jaket ke cewe gue dulu.” Ia menepuk pundak Erik pelan dan mengambil jaket yang sebelumnya ia letakkan pada sandaran kursi dan beranjak dari sana. Ia langsung menghampiri Assa dan menggandeng tangan gadis itu, mengajaknya turun.</p>

<hr/>

<p>“Assa kenapa?” Pertanyaan itu keluar dari mulut Gael dengan nada yang sangat halus. Lelaki itu yakin ada alasan yang membuat Assa tiba-tiba menghampirinya seperti tadi. Apalagi ia menyadari bahwa gadis itu masih mengenakan sandal rumahnya. <em>Seburu-buru itukah?</em> Batin Gael.</p>

<p>Kini keduanya sudah berada di dalam mobil Assa, Gael duduk di <em>driver&#39;s seat</em> sementara sang pemilik duduk di <em>passenger seat.</em> Gadis itu menggigit bibir bawahnya.</p>

<p><em>“Gael pasti malu, Gael pasti malu, Gael pasti malu, Gael pasti malu.”</em> Ia terus mengulang kata itu dalam hati. <em>“Dasar begooooo!!!”</em></p>

<p>“Mau pulang?” Karena gadis di sampingnya ini tidak menjawab pertanyaanya, Gael lantas menawarkan Assa untuk pulang. Siapa tahu ia memang belum ingin mengatakan apapun sekarang.</p>

<p>Assa mengangguk pelan, masih belum berani menatap Gael. Akhirnya ia mengantar gadis itu pulang. Tidak ada percakapan apapun, namun tangan kiri Gael mengenggam tangan kanan Assa selama perjalanan karena gadis itu terlihat meremas ujung baju yang ia kenakan. Gael masih belum bisa menebak apa yang membuat gadisnya sepanik ini, mungkin ia akan menanyakannya nanti setelah Assa merasa lebih tenang. Kini yang harus ia lakukan adalah mengantar Assa sampai ke dalam apartemennya dan kembali ke cafe untuk melanjutkan rapat.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://gratialuna.writeas.com/374</guid>
      <pubDate>Fri, 18 Feb 2022 05:23:36 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>322</title>
      <link>https://gratialuna.writeas.com/322?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Adel membuka pintu utama rumah bernuansa putih itu dengan senyum mengembang di bibirnya. Sedangkan Assa mengekori Adel di belakang, kedua tangannya membawa paper bag berisi cookies dan puding buah yang sengaja ia buat untuk dibawa kesini. &#xA;&#xA;Adel langsung menuju ke dapur—dimana Sekar terlihat sedang sibuk merapihkan pantry. Rambutnya dicepol cantik menggunakan jedai berwarna abu-abu. &#xA;&#xA;&#34;Bunda....&#34; Adel memanggil sang bunda dan mendekat ke arahnya, Sekar buru-buru membalikkan badan saat mendengar suara anak pertamanya itu. &#xA;&#xA;&#34;Eh? Udah sampai Kak?&#34; Wanita itu terlihat anggun dengan sweater rajut berwarna camel yang tampak manis di tubuhnya. Senyumnya merekah saat membalas pelukkan Adel. Kebanyakan orang biasanya mengira bahwa Sekar sepuluh tahun lebih muda dari pada usia aslinya, begitupun Assa. Jika saja Adel tidak memanggil Sekar dengan sebutan &#34;Bunda&#39; Ia pasti mengira kalau Adel dan Sekar adalah kakak beradik yang usianya tidak jauh berbeda. Sekar benar-benar awet muda, sangat anggun dan cantik, batin Assa. &#xA;&#xA;Sesaat setelah anak-ibu itu melepas pelukan, Adel kemudian menoleh ke arah Assa yang sedari tadi di belakangnya. &#34;Ini Assa, Bun.&#34; Ucapnya kepada Sekar. &#xA;&#xA;Wanita itu tersenyum lebar dan menghampiri Assa yang masih mematung kikuk. &#34;Oh ini si cantik pacarnya Gael yaa....&#34; Gadis itu sedikit terkejut—namun tetap tersenyum meskipun sedikit canggung tatkala Sekar memeluknya hangat, agaknya ia sedikit kesusahan karena kedua tangannya menenteng paper bag. &#xA;&#xA;&#34;Eh ini bawa apa, cantik?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Oh ini tante,&#34; Assa langsung menyodorkan kedua paper bag tadi kepada Sekar. &#34;Assa tadi bikin cookies sama puding.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Cookiesnya Assa enak lho, Bun! Adel udah pernah nyobain.&#34; Adel tiba-tiba menimpali, ia melepas blezer yang dikenakan dan meletakkannya di sandaran kursi. &#xA;&#xA;&#34;Oh yaaa?&#34; Sekar menerima pemberian Assa dan membukanya. &#34;Baunya juga enak banget, bunda jadi penasaran.&#34; Sementara Assa masih tersenyum kikuk seperti orang bodoh. &#xA;&#xA;&#34;Sini Bun, pudingnya Adel masukkin kulkas dulu. Ntar kita makan abis selesai dinner.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Oh iya nih Kak.&#34; &#xA;&#xA;Adel meletakkan puding buatan Assa ke dalam kulkas, kemudian mengajak Assa duduk terlebih dahulu. Sementara Sekar berniat memanggil Gael yang masih berada di kamarnya. Namun langkah wanita itu terhenti ketika dirinya melihat Gael yang sedang berdiri di ujung sekat dengan tersenyum lebar dan terlihat sedikit salah tingkah. &#xA;&#xA;&#34;Sini El, ngapain berdiri di situ kaya patung.&#34; Akhirnya lelaki itu berjalan menghampiri ketiga perempuan yang sedang berada di ruang makan. &#xA;&#xA;&#34;Idih Idihhhhhhh ngapain senyum senyum salting kaya gitu.&#34; Adel meledek adiknya dengan gelak tawa yang tidak bisa ia tahan. Baru kali ini ia melihat Gael berjalan sambil salah tingkah seperti itu. &#xA;&#xA;Ia tak menghiraukan Adel sama sekali, matanya menangkap basah gadis yang duduk di sebelah Adel sedang bersemu merah—sama-sama salah tingkah. &#xA;&#xA;&#34;Aduh kenapa malah jadi adu salting gini kaya anak SMP aja.&#34; Ia benar-benar tak ingin membuang kesempatan untuk menggoda Gael kali ini. Kalau saja Sekar tidak menyuruhnya berhenti dan segera makan malam, mungkin Adel masih tetap melanjutkan keusilannya. &#xA;&#xA;Gael duduk di sebelah Sekar—berhadapan dengan Assa. Malam ini bunda memasak lumayan lebih bervariasi dari biasanya. Ada capcai yang terlihat lezat di dalam pinggan, ayam goreng mentega yang beraroma harum, sepiring perkedel dan tempe goreng tanpa tepung, ada sup ikan nila juga di sana, dan beberapa masakan lainnya yang Assa sendiri tidak tahu namanya.&#xA;&#xA;Setelah selesai makan malam, Adel berinisiatif mengambil puding yang dibawa oleh Assa. Memotongnya ke dalam ukuran sedang dan mereka berempat memakannya untuk &#34;cuci mulut.&#34; Sebetulnya Assa merasa sedikit khawatir jika rasa manis puding buatannya tidak sesuai dengan standar rasa manis keluarga Gael. Namun, setelah mendapat pujian dari ketiganya dan Sekar mengatakan kalau rasa manisnya pas, gadis itu merasa sedikit lebih lega—dan semakin lega ketika melihat Adel menghabiskan dua potong puding saking enaknya katanya. &#xA;&#xA;&#34;Gatau tuh, gak sopan banget kan dia manggil aku gak pake embel-embel &#34;kak.&#34; Sekarang, mereka sedang duduk di living room dengan televisi yang menyala, menampikan acara talk show. &#xA;&#xA;Assa duduk di sebelah Adel, membuatnya sedikit merasa tidak secanggung tadi karena Adel benar-benar bisa mencairkan suasana dengan mengbrol santai. &#xA;&#xA;&#34;Kan lo yang nyuruh, gimana sih?&#34; Gael juga terlihat sudah tidak sesalting tadi. Ia dari tadi menimpali candaan Adel walaupun terkadang menyebalkan. &#xA;&#xA;&#34;Loh gue kan nyuruhnya manggil kak, tapi lo malah manggil gue mbak. Ya gue gak mau. Apalagi dulu lo sering iseng manggil mbak-mbak eh taunya lo manggil tukang jamu.&#34; Adel memprotes Gael kesal, mengingat bagimana dulu Gael iseng memanggilnya dengan sebutan &#34;Mbak Adel&#34; dengan nada dan cengkok seperti saat Adel memanggil &#34;Mbak Surti&#34; si tukang jamu langganan Bunda dan Adel. &#xA;&#xA;Sekar hanya bisa geleng-geleng kepala, kedua anaknya ini sering sekali menggoda satu sama lain. &#34;Lihat tuh, Sa. Masa kakak adik setiap hari berantem terus, jarang banget akurnya.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Gaelnya aja yang nyebelin jadi adek!&#34; Adel melirik sinis ke arah Gael. &#34;Eh by the way Assa berapa bersaudara, sih?&#34; &#xA;&#xA;Assa mengerjap kala mendengar pertanyaan Adel barusan. Berapa bersaudra? &#xA;&#xA;&#34;Dua.... Dua bersaudara, Kak.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Ohh dua bersaudara, kamu yang kakak atau kamu yang adek?&#34; &#xA;&#xA;Gael merem-merem sendiri mendengar Adel bertanya demikian kepada Assa, takut jika gadis itu merasa tidak nyaman. &#xA;&#xA;&#34;Ehhh— itu, aku adiknya, tapi nggak jauh jaraknya. Eh maksudnya, aku sama saudaraku seumuran. Soalnya ehm— kita, aku sama dia bukan saudara kandung.&#34; Assa melirik Gael dan Sekar sekilas, &#34;maksudnya saudara tiri.&#34; Lanjutnya yang kemudian diakhiri oleh senyuman kikuk lagi. &#xA;&#xA;&#34;Oalah gitu....&#34; Sepertinya Adel paham dengan arti senyuman Assa barusan. Ia memutuskan untuk mengalihkan topik agar suasana kembali nyaman. &#xA;&#xA;&#34;Oh iya, Sa. Gael kalo boncengin kamu suka ngebut-ngebutan nggak?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Enggak lah!&#34; Lelaki itu menjawab sewot, mana pernah dia memboncengkan Assa sambil ngebut-ngebutan. &#xA;&#xA;&#34;Yeeee gue nanya Assa.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Kalo lagi boncengin aku enggak sih, Kak. Tapi gak tau kalo pas sendirian.&#34; Jawab Assa santai dan menatap Gael dengan mata memincing. &#xA;&#xA;&#34;Nggak lah, aku kan gak pernah ngebut kalo naik motor. Iya kan, Bun?&#34; Gael menoleh ke arah Sekar, meminta pembelaan. &#xA;&#xA;&#34;Bohong deng, dia sering banget naik motor ngebut terus digeberin gitu.&#34; Adel menyerobot tak terima, jelas-jelas Gael dan teman-temannya dulu sering sekali dimarahi oleh tetangga karena suara kenalpotnya yang sangat berisik. &#xA;&#xA;&#34;Itu dulu kali, ah, waktu masih SMA. Sekarang mah udah enggak. Kan ngeboncengin pacar harus hati-hati.&#34; Jawabnya santai sambil tersenyum jahil ke arah Assa.&#xA;&#xA;&#34;Idihhhhhhh, dasar bocil!!!&#34; Adel memutar bola matanya jengah, heran mengapa adiknya menjadi bucin tak tahu malu seperti ini.&#xA;&#xA;Sementara Sekar senyum-senyum melihat tingkah putranya. &#34;Nanti kalo Gael ngebut-ngebutan lagi jewer aja, Sa, kupingnya sampe merah.&#34; &#xA;&#xA;Gadis itu terkekeh kecil mendengar kalimat Sekar barusan.  &#34;Iya Bunda, nanti Assa jewer.&#34; Atas permintaan Sekar—yang disetujui oleh Adel dan Gael, akhirnya Assa memanggil wanita itu dengan sebutan &#34;Bunda.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Tabok juga, Sa, jangan cuma jewer.&#34; &#xA;&#xA;Gael mengibaskan tangannya di depan wajah, &#34;nggak akan.&#34; Katanya percaya diri. Lagi pula ia tidak akan senekat itu membawa anak orang ngebut-ngebutan. Alias, pacarnya harus ia perlakukan dengan hati-hati. &#xA;&#xA;&#34;Assa nanti sering-sering main kesini ya cantik, ntar Bunda masakin makanan kesukaan Assa.&#34; Jujur, Sekar sangat senang melihat Gael yang kembali ekspresif seperti dulu. Ia merasa bahwa putranya ini nyaman dengan gadis cantik yang berstatus sebagai pacarnya itu. &#xA;&#xA;&#34;Iya Bunda, hehe.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Makanan kesukaan Assa apa, sayang?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Iya apa, Sa? Ntar kita masak bareng-bareng. Iya nggak, Bun?&#34; Tanya Adel antusias. Sekar tersenyum lebar dan mengangguk. Sementara Gael merasa diabaikan. &#xA;&#xA;Assa terlihat bingung saat ingin menjawabnya, apa ya makanan kesukaan gue? Ia bahkan tidak tahu. &#34;Hmmm, nggak punya yang spesifik sih. Tapi Assa jamin pasti bakalan doyan semua masakan Bunda. Soalnya beneran enak banget masakannya!&#34; Gadis itu berseru semangat. Memang benar, masakan yang tadi ia makan benar-benar sangat lezat. &#xA;&#xA;&#34;Setuju! Semua masakan bunda gak ada yang gagal. Semuanya enak, iya nggak El?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Bener, bunda tuh chef terhebat di dunia.&#34; &#xA;&#xA;Sekar menggeleng kepala mendengar pernyataan kedua anaknya barusan. Namun tetap ingin tahu lebih spesifik makanan kesukaan Assa agar nantinya ia dapat memasak makanan itu ketika Assa main lagi. &#34;Oh iya, mama Assa biasanya masak apa gitu kalo di rumah??&#34; &#xA;&#xA;&#34;Eh...? Ehm, mama sering masak cumi, sih, Bun...&#34; Iya benar, Mama Dina sering masak berbagai macam cumi karena itu adalah makanan kesukaan Amanda. &#34;Cumi asam manis, cumi goreng, cumi sambal padang.&#34; Dan masih banyak aneka masakan cumi yang lain yang Assa sendiri tidak tahu apa namanya. &#xA;&#xA;Gael tahu jika Assa alergi cumi, gadis itu hanya spontan menjawab pertanyaan dari bundanya dengan jujur. Ia tahu itu. &#xA;&#xA;&#34;Wahhh cumi.... Assa sering makan cumi ya??&#34; Kini Adel bertanya tanpa membiarkan Bundanya merespon kalimat Assa terlebih dahulu. &#xA;&#xA;&#34;Adel, Bunda.... Udah jam sembilan.&#34; Gael mengalihkan topik, menyadari raut wajah gadis itu yang sedikit berubah—meskipun tidak terlalu kentara. &#xA;&#xA;Sekar melirik jam dinding di atas televisi. &#34;Loh iya udah jam sembilan aja.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Perasaan tadi baru jam delapan, deh!&#34; Adel menimpali, &#34;yaudah sana anterin pulang El takut nanti kemaleman—eh bentar Assa jangan salah paham. Bukannya ngusir ya Assa tapi takutnya ntar kalo pulang kemaleman nggak dibolehin main kesini lagi.&#34; Ucap Adel menjelaskan, takut jika Assa salah paham. &#xA;&#xA;&#34;Iya nanti dimarahin sama mama anak gadis pulang kemaleman.&#34; Sekar berujar lembut. &#xA;&#xA;Assa mengangguk paham, ia juga tidak akan berpikiran demikian bahkan jika mereka tidak menjelaskannya. Akhirnya, setelah pamit dan mengucapkan terimakasih kepada Sekar dan Adel, gadis itu langsung diantar pulang oleh Gael.&#xA;&#xA;Selama dua jam di rumah Gael, Assa dapat merasakan bahwa Adel dan Sekar benar-benar berusaha membuatnya agar nyaman dan tidak canggung; mereka berhasil. &#xA;&#xA;Ia bersyukur bahwa pertemuan pertamanya dengan Bunda Gael berjalan lancar. Wanita itu juga bilang bahwa ia menantikan pertemuan-pertemuan mereka selanjutnya. &#xA;&#xA;Adel juga membantunya banyak, ia mencairkan suasana dengan mudah karena beberapa lelucon dan candaannya selama mereka mengobrol tadi. Gael juga bersyukur karena meskipun Assa sempat canggung dan malu-malu diawal, gadis itu tetap terlihat nyaman saat mengobrol tadi.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>Adel membuka pintu utama rumah bernuansa putih itu dengan senyum mengembang di bibirnya. Sedangkan Assa mengekori Adel di belakang, kedua tangannya membawa <em>paper bag</em> berisi <em>cookies</em> dan puding buah yang sengaja ia buat untuk dibawa kesini.</p>

<p>Adel langsung menuju ke dapur—dimana Sekar terlihat sedang sibuk merapihkan <em>pantry.</em> Rambutnya dicepol cantik menggunakan jedai berwarna abu-abu.</p>

<p>“Bunda....” Adel memanggil sang bunda dan mendekat ke arahnya, Sekar buru-buru membalikkan badan saat mendengar suara anak pertamanya itu.</p>

<p>“Eh? Udah sampai Kak?” Wanita itu terlihat anggun dengan sweater rajut berwarna <em>camel</em> yang tampak manis di tubuhnya. Senyumnya merekah saat membalas pelukkan Adel. Kebanyakan orang biasanya mengira bahwa Sekar sepuluh tahun lebih muda dari pada usia aslinya, begitupun Assa. Jika saja Adel tidak memanggil Sekar dengan sebutan <em>“Bunda&#39;</em> Ia pasti mengira kalau Adel dan Sekar adalah kakak beradik yang usianya tidak jauh berbeda. Sekar benar-benar awet muda, sangat anggun dan cantik, batin Assa.</p>

<p>Sesaat setelah anak-ibu itu melepas pelukan, Adel kemudian menoleh ke arah Assa yang sedari tadi di belakangnya. “Ini Assa, Bun.” Ucapnya kepada Sekar.</p>

<p>Wanita itu tersenyum lebar dan menghampiri Assa yang masih mematung kikuk. “Oh ini si cantik pacarnya Gael yaa....” Gadis itu sedikit terkejut—namun tetap tersenyum meskipun sedikit canggung tatkala Sekar memeluknya hangat, agaknya ia sedikit kesusahan karena kedua tangannya menenteng <em>paper bag.</em></p>

<p>“Eh ini bawa apa, cantik?”</p>

<p>“Oh ini tante,” Assa langsung menyodorkan kedua <em>paper bag</em> tadi kepada Sekar. “Assa tadi bikin <em>cookies</em> sama puding.”</p>

<p><em>“Cookiesnya</em> Assa enak <em>lho,</em> Bun! Adel udah pernah nyobain.” Adel tiba-tiba menimpali, ia melepas blezer yang dikenakan dan meletakkannya di sandaran kursi.</p>

<p>“Oh yaaa?” Sekar menerima pemberian Assa dan membukanya. “Baunya juga enak banget, bunda jadi penasaran.” Sementara Assa masih tersenyum kikuk seperti orang bodoh.</p>

<p>“Sini Bun, pudingnya Adel masukkin kulkas dulu. Ntar kita makan abis selesai <em>dinner.”</em></p>

<p>“Oh iya nih Kak.”</p>

<p>Adel meletakkan puding buatan Assa ke dalam kulkas, kemudian mengajak Assa duduk terlebih dahulu. Sementara Sekar berniat memanggil Gael yang masih berada di kamarnya. Namun langkah wanita itu terhenti ketika dirinya melihat Gael yang sedang berdiri di ujung sekat dengan tersenyum lebar dan terlihat sedikit salah tingkah.</p>

<p>“Sini El, ngapain berdiri di situ kaya patung.” Akhirnya lelaki itu berjalan menghampiri ketiga perempuan yang sedang berada di ruang makan.</p>

<p><em>“Idih Idihhhhhhh</em> ngapain senyum senyum <em>salting</em> kaya gitu.” Adel meledek adiknya dengan gelak tawa yang tidak bisa ia tahan. Baru kali ini ia melihat Gael berjalan sambil salah tingkah seperti itu.</p>

<p>Ia tak menghiraukan Adel sama sekali, matanya menangkap basah gadis yang duduk di sebelah Adel sedang bersemu merah—sama-sama salah tingkah.</p>

<p>“Aduh kenapa malah jadi adu <em>salting</em> gini kaya anak SMP aja.” Ia benar-benar tak ingin membuang kesempatan untuk menggoda Gael kali ini. Kalau saja Sekar tidak menyuruhnya berhenti dan segera makan malam, mungkin Adel masih tetap melanjutkan keusilannya.</p>

<p>Gael duduk di sebelah Sekar—berhadapan dengan Assa. Malam ini bunda memasak lumayan lebih bervariasi dari biasanya. Ada capcai yang terlihat lezat di dalam pinggan, ayam goreng mentega yang beraroma harum, sepiring perkedel dan tempe goreng tanpa tepung, ada sup ikan nila juga di sana, dan beberapa masakan lainnya yang Assa sendiri tidak tahu namanya.</p>

<p>Setelah selesai makan malam, Adel berinisiatif mengambil puding yang dibawa oleh Assa. Memotongnya ke dalam ukuran sedang dan mereka berempat memakannya untuk “cuci mulut.” Sebetulnya Assa merasa sedikit khawatir jika rasa manis puding buatannya tidak sesuai dengan standar rasa manis keluarga Gael. Namun, setelah mendapat pujian dari ketiganya dan Sekar mengatakan kalau rasa manisnya pas, gadis itu merasa sedikit lebih lega—dan semakin lega ketika melihat Adel menghabiskan dua potong puding <em>saking enaknya</em> katanya.</p>

<p>“Gatau <em>tuh,</em> gak sopan banget kan dia manggil aku gak pake embel-embel <em>“kak.”</em> Sekarang, mereka sedang duduk di <em>living room</em> dengan televisi yang menyala, menampikan acara <em>talk show.</em></p>

<p>Assa duduk di sebelah Adel, membuatnya sedikit merasa tidak secanggung tadi karena Adel benar-benar bisa mencairkan suasana dengan mengbrol santai.</p>

<p>“Kan lo yang nyuruh, gimana sih?” Gael juga terlihat sudah tidak <em>sesalting</em> tadi. Ia dari tadi menimpali candaan Adel walaupun terkadang menyebalkan.</p>

<p>“Loh gue kan nyuruhnya manggil <em>kak,</em> tapi lo malah manggil gue <em>mbak.</em> Ya gue gak mau. Apalagi dulu lo sering iseng manggil <em>mbak-mbak</em> eh taunya lo manggil tukang jamu.” Adel memprotes Gael kesal, mengingat bagimana dulu Gael iseng memanggilnya dengan sebutan <em>“Mbak Adel”</em> dengan nada dan cengkok seperti saat Adel memanggil <em>“Mbak Surti”</em> si tukang jamu langganan Bunda dan Adel.</p>

<p>Sekar hanya bisa geleng-geleng kepala, kedua anaknya ini sering sekali menggoda satu sama lain. “Lihat tuh, Sa. Masa kakak adik setiap hari berantem terus, jarang banget akurnya.”</p>

<p>“Gaelnya aja yang nyebelin jadi adek!” Adel melirik sinis ke arah Gael. “Eh <em>by the way</em> Assa berapa bersaudara, sih?”</p>

<p>Assa mengerjap kala mendengar pertanyaan Adel barusan. <em>Berapa bersaudra?</em></p>

<p>“Dua.... Dua bersaudara, Kak.”</p>

<p>“Ohh dua bersaudara, kamu yang kakak atau kamu yang adek?”</p>

<p>Gael <em>merem-merem</em> sendiri mendengar Adel bertanya demikian kepada Assa, takut jika gadis itu merasa tidak nyaman.</p>

<p>“Ehhh— itu, aku adiknya, tapi nggak jauh jaraknya. Eh maksudnya, aku sama saudaraku seumuran. Soalnya ehm— kita, aku sama dia bukan saudara kandung.” Assa melirik Gael dan Sekar sekilas, “maksudnya saudara tiri.” Lanjutnya yang kemudian diakhiri oleh senyuman kikuk <em>lagi.</em></p>

<p>“Oalah gitu....” Sepertinya Adel paham dengan arti senyuman Assa barusan. Ia memutuskan untuk mengalihkan topik agar suasana kembali nyaman.</p>

<p>“Oh iya, Sa. Gael kalo boncengin kamu suka ngebut-ngebutan nggak?”</p>

<p>“Enggak lah!” Lelaki itu menjawab sewot, mana pernah dia memboncengkan Assa sambil ngebut-ngebutan.</p>

<p>“Yeeee gue nanya Assa.”</p>

<p>“Kalo lagi boncengin aku enggak sih, Kak. Tapi gak tau kalo pas sendirian.” Jawab Assa santai dan menatap Gael dengan mata memincing.</p>

<p>“Nggak lah, aku kan gak pernah ngebut kalo naik motor. Iya kan, Bun?” Gael menoleh ke arah Sekar, meminta pembelaan.</p>

<p>“Bohong <em>deng,</em> dia sering banget naik motor ngebut terus digeberin gitu.” Adel menyerobot tak terima, jelas-jelas Gael dan teman-temannya dulu sering sekali dimarahi oleh tetangga karena suara kenalpotnya yang sangat berisik.</p>

<p>“Itu dulu kali, ah, waktu masih SMA. Sekarang <em>mah</em> udah enggak. Kan ngeboncengin pacar harus hati-hati.” Jawabnya santai sambil tersenyum jahil ke arah Assa.</p>

<p><em>“Idihhhhhhh,</em> dasar <em>bocil!!!”</em> Adel memutar bola matanya jengah, heran mengapa adiknya menjadi <em>bucin</em> tak tahu malu seperti ini.</p>

<p>Sementara Sekar senyum-senyum melihat tingkah putranya. “Nanti kalo Gael ngebut-ngebutan lagi jewer aja, Sa, kupingnya sampe merah.”</p>

<p>Gadis itu terkekeh kecil mendengar kalimat Sekar barusan.  “Iya Bunda, nanti Assa jewer.” Atas permintaan Sekar—yang disetujui oleh Adel dan Gael, akhirnya Assa memanggil wanita itu dengan sebutan <em>“Bunda.”</em></p>

<p>“Tabok juga, Sa, jangan cuma jewer.”</p>

<p>Gael mengibaskan tangannya di depan wajah, “nggak akan.” Katanya percaya diri. Lagi pula ia tidak akan senekat itu membawa anak orang ngebut-ngebutan. Alias, pacarnya harus ia perlakukan dengan hati-hati.</p>

<p>“Assa nanti sering-sering main kesini ya cantik, ntar Bunda masakin makanan kesukaan Assa.” Jujur, Sekar sangat senang melihat Gael yang kembali ekspresif seperti dulu. Ia merasa bahwa putranya ini nyaman dengan gadis cantik yang berstatus sebagai pacarnya itu.</p>

<p>“Iya Bunda, hehe.”</p>

<p>“Makanan kesukaan Assa apa, sayang?”</p>

<p>“Iya apa, Sa? Ntar kita masak bareng-bareng. Iya nggak, Bun?” Tanya Adel antusias. Sekar tersenyum lebar dan mengangguk. Sementara Gael merasa diabaikan.</p>

<p>Assa terlihat bingung saat ingin menjawabnya, <em>apa ya makanan kesukaan gue?</em> Ia bahkan tidak tahu. “Hmmm, nggak punya yang spesifik sih. Tapi Assa jamin pasti bakalan doyan semua masakan Bunda. Soalnya beneran enak banget masakannya!” Gadis itu berseru semangat. Memang benar, masakan yang tadi ia makan benar-benar sangat lezat.</p>

<p>“Setuju! Semua masakan bunda gak ada yang gagal. Semuanya enak, iya nggak El?”</p>

<p>“Bener, bunda tuh <em>chef</em> terhebat di dunia.”</p>

<p>Sekar menggeleng kepala mendengar pernyataan kedua anaknya barusan. Namun tetap ingin tahu lebih spesifik makanan kesukaan Assa agar nantinya ia dapat memasak makanan itu ketika Assa main lagi. “Oh iya, mama Assa biasanya masak apa gitu kalo di rumah??”</p>

<p>“Eh...? Ehm, mama sering masak cumi, sih, Bun...” Iya benar, Mama Dina sering masak berbagai macam cumi karena itu adalah makanan kesukaan Amanda. “Cumi asam manis, cumi goreng, cumi sambal padang.” Dan masih banyak aneka masakan cumi yang lain yang Assa sendiri tidak tahu apa namanya.</p>

<p>Gael tahu jika Assa alergi cumi, gadis itu hanya spontan menjawab pertanyaan dari bundanya dengan jujur. Ia tahu itu.</p>

<p>“Wahhh cumi.... Assa sering makan cumi ya??” Kini Adel bertanya tanpa membiarkan Bundanya merespon kalimat Assa terlebih dahulu.</p>

<p>“Adel, Bunda.... Udah jam sembilan.” Gael mengalihkan topik, menyadari raut wajah gadis itu yang sedikit berubah—meskipun tidak terlalu kentara.</p>

<p>Sekar melirik jam dinding di atas televisi. “Loh iya udah jam sembilan aja.”</p>

<p>“Perasaan tadi baru jam delapan, deh!” Adel menimpali, “yaudah sana anterin pulang El takut nanti kemaleman—eh bentar Assa jangan salah paham. Bukannya ngusir ya Assa tapi takutnya ntar kalo pulang kemaleman nggak dibolehin main kesini lagi.” Ucap Adel menjelaskan, takut jika Assa salah paham.</p>

<p>“Iya nanti dimarahin sama mama anak gadis pulang kemaleman.” Sekar berujar lembut.</p>

<p>Assa mengangguk paham, ia juga tidak akan berpikiran demikian bahkan jika mereka tidak menjelaskannya. Akhirnya, setelah pamit dan mengucapkan terimakasih kepada Sekar dan Adel, gadis itu langsung diantar pulang oleh Gael.</p>

<p>Selama dua jam di rumah Gael, Assa dapat merasakan bahwa Adel dan Sekar benar-benar berusaha membuatnya agar nyaman dan tidak canggung; mereka berhasil.</p>

<p>Ia bersyukur bahwa pertemuan pertamanya dengan Bunda Gael berjalan lancar. Wanita itu juga bilang bahwa ia menantikan pertemuan-pertemuan mereka selanjutnya.</p>

<p>Adel juga membantunya banyak, ia mencairkan suasana dengan mudah karena beberapa lelucon dan candaannya selama mereka mengobrol tadi. Gael juga bersyukur karena meskipun Assa sempat canggung dan malu-malu diawal, gadis itu tetap terlihat nyaman saat mengobrol tadi.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://gratialuna.writeas.com/322</guid>
      <pubDate>Thu, 17 Feb 2022 18:04:25 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>357</title>
      <link>https://gratialuna.writeas.com/348?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Gael tiba di apartemen Assa, kakinya melangkah menuju ke kamar gadis itu. Ia buka pintu berwarna putih itu perlahan dan menutupnya. Gael dapat langsung melihat Assa dengan posisi setengah berbaring—dan setengah duduk. Punggungnya ia sandarkan pada headboard kasur. Tangan kanannya masih sibuk menscroll ponsel sementara tangan kirinya berada di perut, menahan sakit. &#xA;&#xA;Gael jadi teringat Adel, kakak perempuannya itu seperti orang kesurupan saat period cramps. Entah berlebihan atau tidak, yang jelas Gael tahu dari beberapa sumber jika period memang sesakit itu. Gael mendadak menjadi adik yang menuruti segala permintaan kakaknya jika Adel minta dibelikan sesuatu. &#xA;&#xA;Ia melepas hoodienya, meletakannya di kursi dan berjalan menghampiri gadis itu. Assa tersenyum, meletakkan ponsel dan menggeser tubuh agar Gael dapat duduk di sebelahnya. &#xA;&#xA;&#34;Masih sakit?&#34; &#xA;&#xA;Assa mengangguk pelan, tangan lelaki itu bergerak merapihkan rambut gadisnya. Tangannya yang dingin—sehabis naik motor ia tempelkan di pipi Assa beberapa saat, entah apa tujuannya. &#xA;&#xA;&#34;Bentar ya? Aku ambil air hangat dulu ke dapur.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Jangan lama-lama.&#34; &#xA;&#xA;Gael mengangguk dan beranjak dari sana, biasanya Adel juga begitu, disuruh oleh bunda untuk banyak-banyak minum air hangat. Jadi lelaki itu cukup paham akan hal-hal semacam ini.&#xA;&#xA;Ia kembali dengan segelas air hangat dan menyuruh Assa untuk meminumnya. Gadis itu menurut, diminumnya air hangat itu hingga tersisa setengah. Gael meletakkan gelas tadi di meja sebelah kasur Assa—di samping kardus donat yang tadi sengaja ia beli dan kirimkan melalui jasa gofood karena ia sedang rapat BEM. &#xA;&#xA;&#34;Tiduran aja, jangan banyak gerak.&#34; Gael mengambil duduk di sebelah Assa. Kini posisi kaki mereka sama-sama terjulur lurus ke depan. &#xA;&#xA;Ia kemudian membawa kepala Assa agar menyandar di dadanya. Diusapnya rambut gadis itu pelan. &#34;Susah nggak duduk kaya gini? Mau tiduran aja?&#34; &#xA;&#xA;Masih dengan posisi berbantalan di dada Gael, Assa menggeleng pelan. &#34;Gini aja, nggak susah kok.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Oke, kalo pegel bilang, ya?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Kamu bilang juga kalo pegel.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Iya....&#34; &#xA;&#xA;&#34;Oh iya, kamu udah makan?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Udah.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Nasi?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Iya nasi, aku tadi goreng nugget sama sosis soalnya males masak. Terus donat yang dari kamu aku juga udah makan dua.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Oke pinter.&#34; &#xA;&#xA;Assa tersenyum lebar, ia kemudian melingkarkan kedua tangannya di pinggang Gael. Entah mengapa tiba-tiba dirinya merasa merepotkan Gael. &#34;Maaf ya, El? Makasih juga....&#34; &#xA;&#xA;Lelaki itu mengernyit bingung, &#34;buat apa?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Maaf udah ngerepotin.... Makasih udah mau direpotin....&#34; Ia berkata demikian karena merasa tidak enak sudah meminta Gael datang ke apartemennya, padahal lelaki itu baru saja pulang dari kampus. &#xA;&#xA;&#34;Nggak ada yang merasa direpotin, sayang. Malah waktu kamu bilang sakit tadi, aku langsung kaya oh aku harus kesana, pacarku lagi sakit, gitu.&#34; Ujar Gael dengan tulus, tangannya masih setia mengelus kepala Assa. &#xA;&#xA;&#34;Jadi kamu nggak ngerasa direpotin karna aku nyuruh kamu dateng kesini?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Enggak cantikkkk. Udah ah tidur, dilarang ngomong lagi.&#34; &#xA;&#xA;Assa menurut, namun beberapa detik setelah itu ia menepuk-nepuk dahinya sendiri. Gael terkekeh gemas, mengerti maksud gadisnya. Ia lalu mengecup lembut dahi Assa. Lelaki itu ikut memejamkan mata, menempelkan dagunya di pucuk kepala Assa dan mengeratkan pelukkannya.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>Gael tiba di apartemen Assa, kakinya melangkah menuju ke kamar gadis itu. Ia buka pintu berwarna putih itu perlahan dan menutupnya. Gael dapat langsung melihat Assa dengan posisi setengah berbaring—dan setengah duduk. Punggungnya ia sandarkan pada <em>headboard</em> kasur. Tangan kanannya masih sibuk menscroll ponsel sementara tangan kirinya berada di perut, menahan sakit.</p>

<p>Gael jadi teringat Adel, kakak perempuannya itu seperti orang kesurupan saat period cramps. Entah berlebihan atau tidak, yang jelas Gael tahu dari beberapa sumber jika period memang sesakit itu. Gael mendadak menjadi adik yang menuruti segala permintaan kakaknya jika Adel minta dibelikan sesuatu.</p>

<p>Ia melepas hoodienya, meletakannya di kursi dan berjalan menghampiri gadis itu. Assa tersenyum, meletakkan ponsel dan menggeser tubuh agar Gael dapat duduk di sebelahnya.</p>

<p>“Masih sakit?”</p>

<p>Assa mengangguk pelan, tangan lelaki itu bergerak merapihkan rambut gadisnya. Tangannya yang dingin—sehabis naik motor ia tempelkan di pipi Assa beberapa saat, entah apa tujuannya.</p>

<p>“Bentar ya? Aku ambil air hangat dulu ke dapur.”</p>

<p>“Jangan lama-lama.”</p>

<p>Gael mengangguk dan beranjak dari sana, biasanya Adel juga begitu, disuruh oleh bunda untuk banyak-banyak minum air hangat. Jadi lelaki itu cukup paham akan hal-hal semacam ini.</p>

<p>Ia kembali dengan segelas air hangat dan menyuruh Assa untuk meminumnya. Gadis itu menurut, diminumnya air hangat itu hingga tersisa setengah. Gael meletakkan gelas tadi di meja sebelah kasur Assa—di samping kardus donat yang tadi sengaja ia beli dan kirimkan melalui jasa gofood karena ia sedang rapat BEM.</p>

<p>“Tiduran aja, jangan banyak gerak.” Gael mengambil duduk di sebelah Assa. Kini posisi kaki mereka sama-sama terjulur lurus ke depan.</p>

<p>Ia kemudian membawa kepala Assa agar menyandar di dadanya. Diusapnya rambut gadis itu pelan. “Susah nggak duduk kaya gini? Mau tiduran aja?”</p>

<p>Masih dengan posisi <em>berbantalan</em> di dada Gael, Assa menggeleng pelan. “Gini aja, nggak susah kok.”</p>

<p>“Oke, kalo <em>pegel</em> bilang, ya?”</p>

<p>“Kamu bilang juga kalo <em>pegel.</em>“</p>

<p>“Iya....”</p>

<p>“Oh iya, kamu udah makan?”</p>

<p>“Udah.”</p>

<p>“Nasi?”</p>

<p>“Iya nasi, aku tadi goreng nugget sama sosis soalnya males masak. Terus donat yang dari kamu aku juga udah makan dua.”</p>

<p>“Oke pinter.”</p>

<p>Assa tersenyum lebar, ia kemudian melingkarkan kedua tangannya di pinggang Gael. Entah mengapa tiba-tiba dirinya merasa merepotkan Gael. “Maaf ya, El? Makasih juga....”</p>

<p>Lelaki itu mengernyit bingung, “buat apa?”</p>

<p>“Maaf udah ngerepotin.... Makasih udah mau direpotin....” Ia berkata demikian karena merasa tidak enak sudah meminta Gael datang ke apartemennya, padahal lelaki itu baru saja pulang dari kampus.</p>

<p>“Nggak ada yang merasa direpotin, sayang. Malah waktu kamu bilang <em>sakit</em> tadi, aku langsung kaya <em>oh aku harus kesana, pacarku lagi sakit,</em> gitu.” Ujar Gael dengan tulus, tangannya masih setia mengelus kepala Assa.</p>

<p>“Jadi kamu nggak ngerasa direpotin karna aku nyuruh kamu dateng kesini?”</p>

<p>“Enggak cantikkkk. Udah ah tidur, dilarang ngomong lagi.”</p>

<p>Assa menurut, namun beberapa detik setelah itu ia menepuk-nepuk dahinya sendiri. Gael terkekeh gemas, mengerti maksud gadisnya. Ia lalu mengecup lembut dahi Assa. Lelaki itu ikut memejamkan mata, menempelkan dagunya di pucuk kepala Assa dan mengeratkan pelukkannya.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://gratialuna.writeas.com/348</guid>
      <pubDate>Wed, 16 Feb 2022 15:03:45 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>271</title>
      <link>https://gratialuna.writeas.com/271?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[&#34;Kenapa Assa? Kayaknya lagi nggak bersemangat banget?&#34; Gael menundukkan kepala, menatap wajah Assa di sampingnya. Sedari sepuluh menit yang lalu—setelah Gael sampai di apartment Assa, gadis itu terlihat sedikit murung. &#xA;&#xA;&#34;Aku ngerasa salah jurusan, hahahaha.&#34; Terdengar tawa yang dipaksakan, Gael mengernyit heran. &#xA;&#xA;&#34;Maksudnya?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Aku tuh nggak pinter IPA tapi disuruh masuk tekkim. Bener-bener kayak bunuh diri. Pengen pindah jurusan aja.&#34; &#xA;&#xA;Gael sedikit terkejut mendengar kalimat Assa barusan, ia kira selama ini gadis itu masuk teknik kimia karena kemauannya sendiri. &#34;Disuruh sama siapa?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Papa....&#34; &#xA;&#xA;&#34;Emang kamu nggak ngobrol dulu sebelumnya?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Ngobrol sih, tapi papa nggak mau denger pendapat aku. Jadi aku tetep masuk teknik kimia.&#34; &#xA;&#xA;Gael memutar posisi duduknya menghadap ke arah Assa. Sepertinya gadis itu akan bercerita sesuatu. &#xA;&#xA;&#34;Aku tuh nggak pinter, mungkin bisa dibilang blo&#39;on.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Heh!&#34; Gael menyentil pelan dahi Assa dan membuat gadis itu terkekeh. &#34;Gak boleh ngomong gitu.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Ih tapi beneran tauk! Aku tuh harus belajar extra kalo mau dapet nilai tinggi. Maksudnya, kan ada orang yang terlahir pinter, baru baca sekali dua kali udah langsung paham. Ada juga yang belajar berkali-kali selama berjam-jam, baru bisa paham. Nah, aku tuh tipe yang kedua, tapi di tambah pelupa. Jadi aku selalu belajar sampai subuh kalo mau ada ujian atau penilaian gitu.&#34; Assa berbicara panjang lebar di depan Gael dan cowok itu sibuk mendengarkan. &#xA;&#xA;&#34;Udah gitu tetep aja kalo ketemu soal langsung lupa semalem belajar apa.&#34; Lanjutnya dengan nada kesal. &#xA;&#xA;&#34;Tapi kamu keren udah berusaha keras kaya gitu. Kamu keren udah mau belajar dan berusaha dapet nilai tinggi. Kemarin aja kamu belajar sampe pagi terus, kan? Keren tau, ngga semua orang punya semangat belajar yang tinggi kaya kamu.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Nggak sih, aku nggak keren. Aku cuma caper aja sama papa.&#34; Assa tersenyum kecut. &#xA;&#xA;&#34;Caper sama papa?&#34; Gael mengulang kalimat terakhir Assa dengan nada bertanya. &#xA;&#xA;&#34;Kamu tau Amanda?&#34; &#xA;&#xA;Gael mengangguk pelan. Empat tahun menyukai Assa, ia banyak tau tentang gadis itu melalui Hendra. Sumber yang cukup terpercaya. Mulai dari mama kandung Assa yang sudah meninggal hingga mama tiri Assa dan Amanda. &#xA;&#xA;&#34;Dia saudara tiri aku, tapi dia lebih deket sama papa dibanding aku yang anak kandungnya sendiri. Amanda pinter, papa banyak muji Amanda, papa sering bilang dia bangga sama Amanda, sedangkan ke aku nggak pernah. Bener-bener nggak pernah, ya mungkin karna emang aku nggak layak juga buat di banggain—&#34; &#xA;&#xA;&#34;Assa!&#34; Gael memotong ucapan Assa cepat. &#34;Gak boleh ngomong gitu!&#34; &#xA;&#xA;&#34;Ih beneran. Karna aku gak pinter, aku gak pernah dapet peringkat satu, aku gak pernah menang lomba apapun. Jadi emang nggak ada yang bisa dibanggakan dari aku. Makanya aku berusaha belajar sampe subuh biar nilai aku tinggi. Tapi gak tau kenapa menyedihkan banget, belajar sampe nggak tidur pun nilai aku tetep kecil.&#34; &#xA;&#xA;Entah mengapa mendengar ucapan Assa barusan membuat hati Gael ikut merasakan kesedihan Assa. &#xA;&#xA;&#34;Aku ngerasa belajarku sia-sia, soalnya aku masih tetep kesusahan ngerjain soal uas kemarin.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Nggak ada yang namanya usaha sia-sia, cantik.&#34; Gael mengusap pelan pucuk kepala Assa. &#xA;&#xA;&#34;Tapi aku belajar kan biar nilaiku tinggi, terus biar aku bisa di puji sama papa. Kalo nilaiku kecil, berarti aku tetep gak dapet pujian dari papa. Sia-sia, kan namanya?&#34; &#xA;&#xA;&#34;But you still did your best Assa, and i&#39;m so proud of you. Getting through a day isn&#39;t easy. And you gotten through a bunch. Kamu hebat bisa bertahan sampai hari ini, walaupun kamu bilang kamu nggak suka kimia dan teman-temannya. Kamu tetep belajar dan kamu tetep punya kemauan buat dapet nilai tinggi. It can be hard to see from where you are, but you&#39;re doing really good. It&#39;s okay if the only thing you did this week was surviving.&#34;&#xA;&#xA;Tidak ada yang pernah mengatakan hal demikian kepada Assa sebelumnya. Entah mengapa mendengar kalimat Gael barusan membuat kedua mata gadis itu berair. &#xA;&#xA;&#34;Did you just say that you proud of me?&#34; &#xA;&#xA;Gael tersenyum lebar dan mengangguk, &#34;you doing better than you think you are.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Sini....&#34; Lelaki itu merentangkan tangannya. &#xA;&#xA;&#34;Apa?&#34; &#xA;&#xA;&#34;You deserve a warm hug and pat in your head.&#34; &#xA;&#xA;Assa melingkarkan kedua tangannya di pinggang Gael dan menyandarkan kepalanya di dada bidang cowok itu. Gael menepuk-nepuk pelan pucuk kepala Assa. &#34;Wanna eat something delicious?&#34; &#xA;&#xA;Gadis itu mendongak menatap Gael dengan mata berbinar. &#34;I want SUSHI PLEASEE!!&#34; jawabnya dengan nada bersemangat dan membuat Gael tertawa gemas. &#xA;&#xA;&#34;Okay, ayo.&#34;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>“Kenapa Assa? Kayaknya lagi nggak bersemangat banget?” Gael menundukkan kepala, menatap wajah Assa di sampingnya. Sedari sepuluh menit yang lalu—setelah Gael sampai di apartment Assa, gadis itu terlihat sedikit murung.</p>

<p>“Aku ngerasa salah jurusan, hahahaha.” Terdengar tawa yang dipaksakan, Gael mengernyit heran.</p>

<p>“Maksudnya?”</p>

<p>“Aku tuh nggak pinter IPA tapi disuruh masuk tekkim. Bener-bener kayak bunuh diri. Pengen pindah jurusan aja.”</p>

<p>Gael sedikit terkejut mendengar kalimat Assa barusan, ia kira selama ini gadis itu masuk teknik kimia karena kemauannya sendiri. “Disuruh sama siapa?”</p>

<p>“Papa....”</p>

<p>“Emang kamu nggak ngobrol dulu sebelumnya?”</p>

<p>“Ngobrol sih, tapi papa nggak mau denger pendapat aku. Jadi aku tetep masuk teknik kimia.”</p>

<p>Gael memutar posisi duduknya menghadap ke arah Assa. Sepertinya gadis itu akan bercerita sesuatu.</p>

<p>“Aku tuh nggak pinter, mungkin bisa dibilang blo&#39;on.”</p>

<p>“Heh!” Gael menyentil pelan dahi Assa dan membuat gadis itu terkekeh. “Gak boleh ngomong gitu.”</p>

<p>“Ih tapi beneran tauk! Aku tuh harus belajar extra kalo mau dapet nilai tinggi. Maksudnya, kan ada orang yang terlahir pinter, baru baca sekali dua kali udah langsung paham. Ada juga yang belajar berkali-kali selama berjam-jam, baru bisa paham. Nah, aku tuh tipe yang kedua, tapi di tambah pelupa. Jadi aku selalu belajar sampai subuh kalo mau ada ujian atau penilaian gitu.” Assa berbicara panjang lebar di depan Gael dan cowok itu sibuk mendengarkan.</p>

<p>“Udah gitu tetep aja kalo ketemu soal langsung lupa semalem belajar apa.” Lanjutnya dengan nada kesal.</p>

<p>“Tapi kamu keren udah berusaha keras kaya gitu. Kamu keren udah mau belajar dan berusaha dapet nilai tinggi. Kemarin aja kamu belajar sampe pagi terus, kan? Keren tau, ngga semua orang punya semangat belajar yang tinggi kaya kamu.”</p>

<p>“Nggak sih, aku nggak keren. Aku cuma caper aja sama papa.” Assa tersenyum kecut.</p>

<p>“Caper sama papa?” Gael mengulang kalimat terakhir Assa dengan nada bertanya.</p>

<p>“Kamu tau Amanda?”</p>

<p>Gael mengangguk pelan. Empat tahun menyukai Assa, ia banyak tau tentang gadis itu melalui Hendra. Sumber yang cukup terpercaya. Mulai dari mama kandung Assa yang sudah meninggal hingga mama tiri Assa dan Amanda.</p>

<p>“Dia saudara tiri aku, tapi dia lebih deket sama papa dibanding aku yang anak kandungnya sendiri. Amanda pinter, papa banyak muji Amanda, papa sering bilang dia bangga sama Amanda, sedangkan ke aku nggak pernah. Bener-bener nggak pernah, ya mungkin karna emang aku nggak layak juga buat di banggain—”</p>

<p>“Assa!” Gael memotong ucapan Assa cepat. “Gak boleh ngomong gitu!”</p>

<p>“Ih beneran. Karna aku gak pinter, aku gak pernah dapet peringkat satu, aku gak pernah menang lomba apapun. Jadi emang nggak ada yang bisa dibanggakan dari aku. Makanya aku berusaha belajar sampe subuh biar nilai aku tinggi. Tapi gak tau kenapa menyedihkan banget, belajar sampe nggak tidur pun nilai aku tetep kecil.”</p>

<p>Entah mengapa mendengar ucapan Assa barusan membuat hati Gael ikut merasakan kesedihan Assa.</p>

<p>“Aku ngerasa belajarku sia-sia, soalnya aku masih tetep kesusahan ngerjain soal uas kemarin.”</p>

<p>“Nggak ada yang namanya usaha sia-sia, cantik.” Gael mengusap pelan pucuk kepala Assa.</p>

<p>“Tapi aku belajar kan biar nilaiku tinggi, terus biar aku bisa di puji sama papa. Kalo nilaiku kecil, berarti aku tetep gak dapet pujian dari papa. Sia-sia, kan namanya?”</p>

<p><em>“But you still did your best</em> Assa, <em>and i&#39;m so proud of you. Getting through a day isn&#39;t easy. And you gotten through a bunch.</em> Kamu hebat bisa bertahan sampai hari ini, walaupun kamu bilang kamu nggak suka kimia dan teman-temannya. Kamu tetep belajar dan kamu tetep punya kemauan buat dapet nilai tinggi. <em>It can be hard to see from where you are, but you&#39;re doing really good. It&#39;s okay if the only thing you did this week was surviving.”</em></p>

<p>Tidak ada yang pernah mengatakan hal demikian kepada Assa sebelumnya. Entah mengapa mendengar kalimat Gael barusan membuat kedua mata gadis itu berair.</p>

<p><em>“Did you just say that you proud of me?”</em></p>

<p>Gael tersenyum lebar dan mengangguk, <em>“you doing better than you think you are.”</em></p>

<p>“Sini....” Lelaki itu merentangkan tangannya.</p>

<p>“Apa?”</p>

<p><em>“You deserve a warm hug and pat in your head.”</em></p>

<p>Assa melingkarkan kedua tangannya di pinggang Gael dan menyandarkan kepalanya di dada bidang cowok itu. Gael menepuk-nepuk pelan pucuk kepala Assa. <em>“Wanna eat something delicious?”</em></p>

<p>Gadis itu mendongak menatap Gael dengan mata berbinar. <em>“I want SUSHI PLEASEE!!”</em> jawabnya dengan nada bersemangat dan membuat Gael tertawa gemas.</p>

<p>“Okay, ayo.”</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://gratialuna.writeas.com/271</guid>
      <pubDate>Sat, 12 Feb 2022 02:14:14 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>268</title>
      <link>https://gratialuna.writeas.com/268?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[&#34;Kenapa Assa? Kayaknya lagi nggak bersemangat banget?&#34; Gael menundukkan kepala, menatap wajah Assa di sampingnya. Sedari sepuluh menit yang lalu—setelah Gael sampai di apartment Assa, gadis itu terlihat sedikit murung. &#xA;&#xA;&#34;Aku ngerasa salah jurusan, hahahaha.&#34; Terdengar tawa yang dipaksakan, Gael mengernyit heran. &#xA;&#xA;&#34;Maksudnya?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Aku tuh nggak pinter IPA tapi disuruh masuk tekkim. Bener-bener kayak bunuh diri. Pengen pindah jurusan aja.&#34; &#xA;&#xA;Gael sedikit terkejut mendengar kalimat Assa barusan, ia kira selama ini gadis itu masuk teknik kimia karena kemauannya sendiri. &#34;Disuruh sama siapa?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Papa....&#34; &#xA;&#xA;&#34;Emang kamu nggak ngobrol dulu sebelumnya?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Ngobrol sih, tapi papa nggak mau denger pendapat aku. Jadi aku tetep masuk teknik kimia.&#34; &#xA;&#xA;Gael memutar posisi duduknya menghadap ke arah Assa. Sepertinya gadis itu akan bercerita sesuatu. &#xA;&#xA;&#34;Aku tuh nggak pinter, mungkin bisa dibilang blo&#39;on.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Heh!&#34; Gael menyentil pelan dahi Assa dan membuat gadis itu terkekeh. &#34;Gak boleh ngomong gitu.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Ih tapi beneran tauk! Aku tuh harus belajar extra kalo mau dapet nilai tinggi. Maksudnya, kan ada orang yang terlahir pinter, baru baca sekali dua kali udah langsung paham. Ada juga yang belajar berkali-kali selama berjam-jam, baru bisa paham. Nah, aku tuh tipe yang kedua, tapi di tambah pelupa. Jadi aku selalu belajar sampai subuh kalo mau ada ujian atau penilaian gitu.&#34; Assa berbicara panjang lebar di depan Gael dan cowok itu sibuk mendengarkan. &#xA;&#xA;&#34;Udah gitu tetep aja kalo ketemu soal langsung lupa semalem belajar apa.&#34; Lanjutnya dengan nada kesal. &#xA;&#xA;&#34;Tapi kamu keren udah berusaha keras kaya gitu. Kamu keren udah mau belajar dan berusaha dapet nilai tinggi. Kemarin aja kamu belajar sampe pagi terus, kan? Keren tau, ngga semua orang punya semangat belajar yang tinggi kaya kamu.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Nggak sih, aku nggak keren. Aku cuma caper aja sama papa.&#34; Assa tersenyum kecut. &#xA;&#xA;&#34;Caper sama papa?&#34; Gael mengulang kalimat terakhir Assa dengan nada bertanya. &#xA;&#xA;&#34;Kamu tau Amanda?&#34; &#xA;&#xA;Gael mengangguk pelan. Empat tahun menyukai Assa, ia banyak tau tentang gadis itu melalui Hendra. Sumber yang cukup terpercaya. Mulai dari mama kandung Assa yang sudah meninggal hingga mama tiri Assa dan Amanda. &#xA;&#xA;&#34;Dia saudara tiri aku, tapi dia lebih deket sama papa dibanding aku yang anak kandungnya sendiri. Amanda pinter, papa banyak muji Amanda, papa sering bilang dia bangga sama Amanda, sedangkan ke aku nggak pernah. Bener-bener nggak pernah, ya mungkin karna emang aku nggak layak juga buat di banggain—&#34; &#xA;&#xA;&#34;Assa!&#34; Gael memotong ucapan Assa cepat. &#34;Gak boleh ngomong gitu!&#34; &#xA;&#xA;&#34;Ih beneran. Karna aku gak pinter, aku gak pernah dapet peringkat satu, aku gak pernah menang lomba apapun. Jadi emang nggak ada yang bisa dibanggakan dari aku. Makanya aku berusaha belajar sampe subuh biar nilai aku tinggi. Tapi gak tau kenapa menyedihkan banget, belajar sampe nggak tidur pun nilai aku tetep kecil.&#34; &#xA;&#xA;Entah mengapa mendengar ucapan Assa barusan membuat hati Gael ikut merasakan kesedihan Assa. &#xA;&#xA;&#34;Aku ngerasa belajarku sia-sia, soalnya aku masih tetep kesusahan ngerjain soal uas kemarin.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Nggak ada yang namanya usaha sia-sia, cantik.&#34; Gael mengusap pelan pucuk kepala Assa. &#xA;&#xA;&#34;Tapi aku belajar kan biar nilaiku tinggi, terus biar aku bisa di puji sama papa. Kalo nilaiku kecil, berarti aku tetep gak dapet pujian dari papa. Sia-sia, kan namanya?&#34; &#xA;&#xA;&#34;But you still did your best Assa, and i&#39;m so proud of you. Getting through a day isn&#39;t easy. And you gotten through a bunch. Kamu hebat bisa bertahan sampai hari ini, walaupun kamu bilang kamu nggak suka kimia dan teman-temannya. Kamu tetep belajar dan kamu tetep punya kemauan buat dapet nilai tinggi. It can be hard to see from where you are, but you&#39;re doing really good. It&#39;s okay if the only thing you did this week was surviving.&#34; &#xA;&#xA;Tidak ada yang pernah mengatakan hal demikian kepada Assa sebelumnya. Entah mengapa mendengar kalimat Gael barusan membuat kedua mata gadis itu berair. &#xA;&#xA;&#34;Did you just say that you proud of me?&#34; &#xA;&#xA;Gael tersenyum lebar dan mengangguk, &#34;you doing better than you think you are.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Sini....&#34; Lelaki itu merentangkan tangannya. &#xA;&#xA;&#34;Apa?&#34; &#xA;&#xA;&#34;You deserve a warm hug.&#34; &#xA;&#xA;Assa melingkarkan kedua tangannya di pinggang Gael dan menyandarkan kepalanya di dada bidang cowok itu. Gael mengusap pelan bagian belakang kepala Assa. &#34;Wanna eat something delicious?&#34; &#xA;&#xA;Gadis itu mendongak menatap Gael dengan mata berbinar. &#34;I want SUSHI PLEASEE!!&#34;* jawabnya dengan nada bersemangat dan membuat Gael tertawa gemas. &#xA;&#xA;&#34;Okay, ayo.&#34;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>“Kenapa Assa? Kayaknya lagi nggak bersemangat banget?” Gael menundukkan kepala, menatap wajah Assa di sampingnya. Sedari sepuluh menit yang lalu—setelah Gael sampai di apartment Assa, gadis itu terlihat sedikit murung.</p>

<p>“Aku ngerasa salah jurusan, hahahaha.” Terdengar tawa yang dipaksakan, Gael mengernyit heran.</p>

<p>“Maksudnya?”</p>

<p>“Aku tuh nggak pinter IPA tapi disuruh masuk tekkim. Bener-bener kayak bunuh diri. Pengen pindah jurusan aja.”</p>

<p>Gael sedikit terkejut mendengar kalimat Assa barusan, ia kira selama ini gadis itu masuk teknik kimia karena kemauannya sendiri. “Disuruh sama siapa?”</p>

<p>“Papa....”</p>

<p>“Emang kamu nggak ngobrol dulu sebelumnya?”</p>

<p>“Ngobrol sih, tapi papa nggak mau denger pendapat aku. Jadi aku tetep masuk teknik kimia.”</p>

<p>Gael memutar posisi duduknya menghadap ke arah Assa. Sepertinya gadis itu akan bercerita sesuatu.</p>

<p>“Aku tuh nggak pinter, mungkin bisa dibilang blo&#39;on.”</p>

<p>“Heh!” Gael menyentil pelan dahi Assa dan membuat gadis itu terkekeh. “Gak boleh ngomong gitu.”</p>

<p>“Ih tapi beneran tauk! Aku tuh harus belajar extra kalo mau dapet nilai tinggi. Maksudnya, kan ada orang yang terlahir pinter, baru baca sekali dua kali udah langsung paham. Ada juga yang belajar berkali-kali selama berjam-jam, baru bisa paham. Nah, aku tuh tipe yang kedua, tapi di tambah pelupa. Jadi aku selalu belajar sampai subuh kalo mau ada ujian atau penilaian gitu.” Assa berbicara panjang lebar di depan Gael dan cowok itu sibuk mendengarkan.</p>

<p>“Udah gitu tetep aja kalo ketemu soal langsung lupa semalem belajar apa.” Lanjutnya dengan nada kesal.</p>

<p>“Tapi kamu keren udah berusaha keras kaya gitu. Kamu keren udah mau belajar dan berusaha dapet nilai tinggi. Kemarin aja kamu belajar sampe pagi terus, kan? Keren tau, ngga semua orang punya semangat belajar yang tinggi kaya kamu.”</p>

<p>“Nggak sih, aku nggak keren. Aku cuma caper aja sama papa.” Assa tersenyum kecut.</p>

<p>“Caper sama papa?” Gael mengulang kalimat terakhir Assa dengan nada bertanya.</p>

<p>“Kamu tau Amanda?”</p>

<p>Gael mengangguk pelan. Empat tahun menyukai Assa, ia banyak tau tentang gadis itu melalui Hendra. Sumber yang cukup terpercaya. Mulai dari mama kandung Assa yang sudah meninggal hingga mama tiri Assa dan Amanda.</p>

<p>“Dia saudara tiri aku, tapi dia lebih deket sama papa dibanding aku yang anak kandungnya sendiri. Amanda pinter, papa banyak muji Amanda, papa sering bilang dia bangga sama Amanda, sedangkan ke aku nggak pernah. Bener-bener nggak pernah, ya mungkin karna emang aku nggak layak juga buat di banggain—”</p>

<p>“Assa!” Gael memotong ucapan Assa cepat. “Gak boleh ngomong gitu!”</p>

<p>“Ih beneran. Karna aku gak pinter, aku gak pernah dapet peringkat satu, aku gak pernah menang lomba apapun. Jadi emang nggak ada yang bisa dibanggakan dari aku. Makanya aku berusaha belajar sampe subuh biar nilai aku tinggi. Tapi gak tau kenapa menyedihkan banget, belajar sampe nggak tidur pun nilai aku tetep kecil.”</p>

<p>Entah mengapa mendengar ucapan Assa barusan membuat hati Gael ikut merasakan kesedihan Assa.</p>

<p>“Aku ngerasa belajarku sia-sia, soalnya aku masih tetep kesusahan ngerjain soal uas kemarin.”</p>

<p>“Nggak ada yang namanya usaha sia-sia, cantik.” Gael mengusap pelan pucuk kepala Assa.</p>

<p>“Tapi aku belajar kan biar nilaiku tinggi, terus biar aku bisa di puji sama papa. Kalo nilaiku kecil, berarti aku tetep gak dapet pujian dari papa. Sia-sia, kan namanya?”</p>

<p><em>“But you still did your best</em> Assa, <em>and i&#39;m so proud of you. Getting through a day isn&#39;t easy. And you gotten through a bunch.</em> Kamu hebat bisa bertahan sampai hari ini, walaupun kamu bilang kamu nggak suka kimia dan teman-temannya. Kamu tetep belajar dan kamu tetep punya kemauan buat dapet nilai tinggi. *It can be hard to see from where you are, but you&#39;re doing really good. It&#39;s okay if the only thing you did this week was surviving.”</p>

<p>Tidak ada yang pernah mengatakan hal demikian kepada Assa sebelumnya. Entah mengapa mendengar kalimat Gael barusan membuat kedua mata gadis itu berair.</p>

<p><em>“Did you just say that you proud of me?”</em></p>

<p>Gael tersenyum lebar dan mengangguk, <em>“you doing better than you think you are.”</em></p>

<p>“Sini....” Lelaki itu merentangkan tangannya.</p>

<p>“Apa?”</p>

<p><em>“You deserve a warm hug.”</em></p>

<p>Assa melingkarkan kedua tangannya di pinggang Gael dan menyandarkan kepalanya di dada bidang cowok itu. Gael mengusap pelan bagian belakang kepala Assa. <em>“Wanna eat something delicious?”</em></p>

<p>Gadis itu mendongak menatap Gael dengan mata berbinar. <em>“I want SUSHI PLEASEE!!”</em> jawabnya dengan nada bersemangat dan membuat Gael tertawa gemas.</p>

<p>“Okay, ayo.”</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://gratialuna.writeas.com/268</guid>
      <pubDate>Fri, 11 Feb 2022 14:22:04 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>205</title>
      <link>https://gratialuna.writeas.com/205-kswj?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Assa sekarang sedang mondar-mandir di depan unit apartemen Gael. Lagian, ia belum tahu apakah beberapa nomor yang Gael kirimkan benar pin apartemen itu atau bukan. Haruskah ia masuk sekarang? Kepala Assa memikirkan beberapa hal yang kemungkinan akan terjadi, seperti di drama atau film yang ia tonton. &#xA;&#xA;Bagaimana kalo ternyata Gael disekap oleh beberapa penjahat di dalam apartemennya? Bagaimana jika yang mengirimnya pesan adalah preman yang sedang menunggu Assa untuk menebus Gael dengan uang senilai milyaran? Bagaimana jika— ok sudah cukup. Assa menepuk-nepuk kepalanya sendiri untuk menghilangkan segala pikiran aneh yang tiba-tiba terlintas di kepalanya. &#xA;&#xA;Pukul 23:34, Assa menekan depalan digit angka yang Gael kirimkan kepadanya. Pintu terbuka, gadis itu menghela nafas lega, setidaknya, ia tidak salah langkah, mungkin. Assa melihat sekeliling sebelum akhirnya masuk. Gadis itu berjalan mengendap-endap menuju pintu kamar Gael. Ia lalu berhenti dan diam di depan pintu kamar selama beberapa menit sebelum meyakinkan dirinya bahwa ia akan benar-benar masuk. &#xA;&#xA;Assa menghela nafas panjang, tangannya mendorong push handle pintu secara perlahan. Gelap, adalah hal pertama yang Assa lihat ketika pintu kamar Gael terbuka. Gadis itu menemukan saklar di sebelah pintu dan menyalakannya. &#xA;&#xA;Assa terkejut bukan main dengan keadaan kamar Gael saat ini. Satu buah gitar akustik hancur berkeping-keping  dan dua buah gitar elektrik tergeletak rusak di lantai. Gael berada diatas ranjangnya dengan posisi membelakangi Assa. Gadis itu pelan-pelan berjalan menuju pinggiran kasur Gael. &#xA;&#xA;&#34;El....&#34; Panggilnya pelan. Lelaki itu membalikkan badan menghadap Assa. &#xA;&#xA;Gadis itu menutup mulutnya melihat wajah Gael yang sangat pucat, ada darah kering di sudut bibirnya, kedua matanya terlihat seperti orang yang..., entah terlalu lama tertidur atau terlalu lama menangis. &#xA;&#xA;Assa reflek menyentuh kening Gael dan kembali terkejut karena suhu tubuh Gael yang tinggi. &#34;Lo demam, El. Aduh gimana ya....&#34; Assa panik sendiri. &#xA;&#xA;&#34;Bentar gue beli paracetamol dulu sama makanan, ya? Aduh, eh lo mau makan apa, El? Yaampun ini badan lo panas banget, gue telfon ambulans aja kali ya atau kita ke rumah sakit aja gue bawa mobil kok, gimana, El? Aduh bentar-bentar.&#34; &#xA;&#xA;Gael menatap Assa dengan kedua mata sayunya lalu menggeleng pelan. &#34;Hah apa? Nggak mau ke rumah sakit?&#34; Gael mengangguk. &#xA;&#xA;&#34;Terus gimana? Gue beli paracetamol dulu yaaa?&#34; Gael menggeleng lagi. &#34;Bentar aja, sepuluh menit kok.&#34; &#xA;&#xA;Cowok itu menunjuk meja di sebelah ranjangnya, &#34;apa? Oh ada obatnya disitu?&#34; Tanya Assa yang dibalas oleh Gael dengan anggukan kecil. Gadis itu membuka lemari dan mengambil kotak obat dan mencari paracetamol lalu berjalan kembali ke kasur Gael. &#xA;&#xA;&#34;Eh bentar, El gue ambil minum dulu di dapur ya.&#34; Assa pergi melengang ke dapur dan kembali dengan satu gelas air putih di tangan kanannya lalu meletakkannya di meja dekat kasur Gael. &#xA;&#xA;Assa membantu lelaki itu mendudukkan tubuhnya, lalu memberikan paracetamol dan segelas air putih. &#xA;&#xA;&#34;Lo udah makan?&#34; Gael menggeleng pelan.&#xA;&#34;Mau makan apa?&#34; Cowok itu menggeleng lagi, membuat Assa bingung. &#xA;&#xA;&#34;Gue bikinin bubur, ya?&#34; Jawaban cowok itu masih sama, &#34;ih jangan geleng mulu  El. Lo harus makan.&#34; &#xA;&#xA;Gael mengubah posisi duduknya dan bersandar pada headboard kasur. Assa baru tersadar akan darah kering yang berada di sudut bibir cowok itu. &#34;Lo ada sapu tangan?&#34; Tanya Assa, Gael tampak mengernyitkan kedua alisnya. Namun ia tidak memiliki energi untuk bertanya apa tujuan Assa mencari sapu tangan. &#xA;&#xA;Cowok itu menunjuk lemari yang ada di samping kanan mereka. &#34;Di lemari?&#34; Gael mengangguk lagi. sepertinya Ia hanya memiliki tenaga untuk mengangguk dan menggeleng saja. &#xA;&#xA;&#34;Gue izin buka lemari lo ya, buat nyari sapu tangan. Mau bersihin darah di bibir lo.&#34; Gael bahkan baru sadar bahwa ada darah dan luka yang sudah mengering di sudut bibirnya. Gadis itu melangkah menuju lemari dan membuka pintunya, mencari-cari keberadaan sapu tangan selama beberapa menit. Setelah mendapat barang yang di cari, ia bergegas ke dapur dan kembali dengan satu baskom berisi air hangat. &#xA;&#xA;&#34;Ini gue izin duduk di sini gapapa kan, El?&#34; Tanya Assa ketika ia hendak duduk di pinggiran kasur dan dibalas anggukan pelan oleh Gael. Ia menyuruh Gael mendekat agar memudahkan pekerjaannya. Gadis itu membersihkan dengan sangat pelan karena Gael sesekali meringis kesakitan. &#xA;&#xA;Tidak ada pertanyaan apapun yang keluar dari mulut Assa walaupun sebenarnya ia sudah ingin melontarkan beberapa yang terlintas di kepalanya. Gael menatap mata Assa yang sedang fokus pada area bibirnya. Assa yang merasa di perhatikan berpura-pura berdeham kecil karena suasana yang terlalu canggung. &#xA;&#xA;Gadis itu meletakkan wadah berisi air hangat tadi dan sapu tangan di nakas yang berada di sebelahnya. Ia menyentuh kening Gael untuk ke dua kalinya, masih sangat panas. &#34;Makan, ya?&#34; Nada bicaranya sangat lembut, namun Gael hanya diam saja. &#xA;&#xA;&#34;Sakit.&#34; Satu kata itu keluar dari mulut Gael, Assa tidak tahu sakit apa yang Gael maksud. &#xA;&#xA;Netra keduanya bertemu, Gael meraih tangan Assa dan meletakkannya di pipi kanannya. &#34;Sakit.&#34; Ucapnya lagi, suaranya serak dan lemah. Tanpa sadar, ibu jari Assa bergerak di atas pipi Gael, mengelusnya pelan. &#xA;&#xA;&#34;Gue ditampar sama ayah....&#34; Assa jelas terkejut mendengarnya, namun ia tidak berniat bertanya apapun. Ia hanya ingin membiarkan Gael mengatakan apa yang ingin lelaki itu katakan. &#xA;&#xA;&#34;Sakit.&#34; Kata itu keluar untuk yang ketiga kalinya, Assa masih terdiam dengan tatapan yang terkunci pada netra cokelat di depannya. &#xA;&#xA;&#34;Gue juga ditampar sama Adel....&#34; Tidak ada emosi dalam nada bicaranya, Assa dapat merasakan itu. &#34;Sakit, Sa. Sakit banget.&#34; &#xA;&#xA;Entah mengapa gadis itu merasa bahwa &#34;sakit&#34; yang Gael maksud bukan yang ia rasakan di pipinya, tapi &#34;sakit&#34; yang dimaksud adalah sakit di hatinya. &#xA;&#xA;Mata yang sedari tadi Assa tatap kini mulai basah. Ibu jari Assa berpindah ke sudut bibir Gael yang sedikit terluka dan mengelusnya pelan. Tatapan mereka kembali bertemu, Assa tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada laki-laki ini. Tapi suara serak dan mata kemerahannya menjadi tanda bahwa ia pasti menangis untuk wakta yang lama. Beberapa gitar yang tergeletak di lantai dengan keadaan rusak juga sepertinya karena laki-laki itu membantingnya...? Mungkin, atau memukulnya, bisa jadi. &#xA;&#xA;Assa merasakan punggung tangannya basah karena setetes cairan bening yang keluar dari mata Gael jatuh di sana. Entah mendapat keberanian dari mana, gadis itu langsung menarik Gael ke dalam dekapannya. Assa memeluk Gael, tangan kirinya mengusap belakang kepala cowok itu berusaha menenangkan. &#xA;&#xA;&#34;It&#39;s okay to cry..., it&#39;s totally okay.&#34; &#xA;&#xA;Lelaki itu melingkarkan kedua tangannya di pinggang Assa, mencoba mencari kenyamanan di sana. &#xA;&#xA;&#34;Di sini aja ya, Sa.&#34; Ucap Gael yang masih memeluk Assa. &#34;Malem ini, di sini aja. Please.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Iya, gue disini kok. Nggak kemana-mana.&#34; &#xA;&#xA;Malam itu, Gael merasa sedikit lebih tenang setelah tiga hari mengurung dirinya di kamar. Ia benar-benar tidak keluar apartemen selama tiga hari kemarin, bahkan ia hanya makan satu kali dan sisanya cowok itu hanya mengisi perutnya dengan sebotol air mineral. &#xA;&#xA;Ia bahkan tidak tertidur dengan tenang, pikirannya di hantui oleh rasa kecewa dan berbagai pertanyaan perihal kejadian bersama bunda dan Adel kamis malam lalu. Ia bahkan mengnonaktifnkan ponselnya, sebelum akhirnya satu nama terlintas di kepalanya, Assa. Gael mengabaikan belasan pesan dan panggilan tak terjawab yang masuk, hal pertama yang ia lakukan adalah mencari kontak Assa, mengirimnya dua bubble pesan dan langsung menonaktifkannya kembali. &#xA;&#xA;Perempuan yang sering berada di pikirannya selama lebih dari tiga bulan terakhir. Gael meminta Assa datang, dan gadis itu benar-benar datang. Kini, di pelukkan Assa, Gael merasa nyaman, Gael merasa lebih tenang, he really feels so much better.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>Assa sekarang sedang mondar-mandir di depan unit apartemen Gael. Lagian, ia belum tahu apakah beberapa nomor yang Gael kirimkan benar pin apartemen itu atau bukan. Haruskah ia masuk sekarang? Kepala Assa memikirkan beberapa hal yang kemungkinan akan terjadi, seperti di drama atau film yang ia tonton.</p>

<p>Bagaimana kalo ternyata Gael disekap oleh beberapa penjahat di dalam apartemennya? Bagaimana jika yang mengirimnya pesan adalah preman yang sedang menunggu Assa untuk menebus Gael dengan uang senilai milyaran? Bagaimana jika— ok sudah cukup. Assa menepuk-nepuk kepalanya sendiri untuk menghilangkan segala pikiran aneh yang tiba-tiba terlintas di kepalanya.</p>

<p>Pukul 23:34, Assa menekan depalan digit angka yang Gael kirimkan kepadanya. Pintu terbuka, gadis itu menghela nafas lega, setidaknya, ia tidak salah langkah, mungkin. Assa melihat sekeliling sebelum akhirnya masuk. Gadis itu berjalan mengendap-endap menuju pintu kamar Gael. Ia lalu berhenti dan diam di depan pintu kamar selama beberapa menit sebelum meyakinkan dirinya bahwa ia akan benar-benar masuk.</p>

<p>Assa menghela nafas panjang, tangannya mendorong <em>push handle</em> pintu secara perlahan. Gelap, adalah hal pertama yang Assa lihat ketika pintu kamar Gael terbuka. Gadis itu menemukan saklar di sebelah pintu dan menyalakannya.</p>

<p>Assa terkejut bukan main dengan keadaan kamar Gael saat ini. Satu buah gitar akustik hancur berkeping-keping  dan dua buah gitar elektrik tergeletak rusak di lantai. Gael berada diatas ranjangnya dengan posisi membelakangi Assa. Gadis itu pelan-pelan berjalan menuju pinggiran kasur Gael.</p>

<p>“El....” Panggilnya pelan. Lelaki itu membalikkan badan menghadap Assa.</p>

<p>Gadis itu menutup mulutnya melihat wajah Gael yang sangat pucat, ada darah kering di sudut bibirnya, kedua matanya terlihat seperti orang yang..., entah terlalu lama tertidur atau terlalu lama menangis.</p>

<p>Assa reflek menyentuh kening Gael dan kembali terkejut karena suhu tubuh Gael yang tinggi. “Lo demam, El. Aduh gimana ya....” Assa panik sendiri.</p>

<p>“Bentar gue beli paracetamol dulu sama makanan, ya? Aduh, eh lo mau makan apa, El? Yaampun ini badan lo panas banget, gue telfon ambulans aja kali ya atau kita ke rumah sakit aja gue bawa mobil kok, gimana, El? Aduh bentar-bentar.”</p>

<p>Gael menatap Assa dengan kedua mata sayunya lalu menggeleng pelan. “Hah apa? Nggak mau ke rumah sakit?” Gael mengangguk.</p>

<p>“Terus gimana? Gue beli paracetamol dulu yaaa?” Gael menggeleng lagi. “Bentar aja, sepuluh menit kok.”</p>

<p>Cowok itu menunjuk meja di sebelah ranjangnya, “apa? Oh ada obatnya disitu?” Tanya Assa yang dibalas oleh Gael dengan anggukan kecil. Gadis itu membuka lemari dan mengambil kotak obat dan mencari paracetamol lalu berjalan kembali ke kasur Gael.</p>

<p>“Eh bentar, El gue ambil minum dulu di dapur ya.” Assa pergi melengang ke dapur dan kembali dengan satu gelas air putih di tangan kanannya lalu meletakkannya di meja dekat kasur Gael.</p>

<p>Assa membantu lelaki itu mendudukkan tubuhnya, lalu memberikan paracetamol dan segelas air putih.</p>

<p>“Lo udah makan?” Gael menggeleng pelan.
“Mau makan apa?” Cowok itu menggeleng lagi, membuat Assa bingung.</p>

<p>“Gue bikinin bubur, ya?” Jawaban cowok itu masih sama, “ih jangan geleng mulu  El. Lo harus makan.”</p>

<p>Gael mengubah posisi duduknya dan bersandar pada <em>headboard</em> kasur. Assa baru tersadar akan darah kering yang berada di sudut bibir cowok itu. “Lo ada sapu tangan?” Tanya Assa, Gael tampak mengernyitkan kedua alisnya. Namun ia tidak memiliki energi untuk bertanya apa tujuan Assa mencari sapu tangan.</p>

<p>Cowok itu menunjuk lemari yang ada di samping kanan mereka. “Di lemari?” Gael mengangguk <em>lagi.</em> sepertinya Ia hanya memiliki tenaga untuk mengangguk dan menggeleng saja.</p>

<p>“Gue izin buka lemari lo ya, buat nyari sapu tangan. Mau bersihin darah di bibir lo.” Gael bahkan baru sadar bahwa ada darah dan luka yang sudah mengering di sudut bibirnya. Gadis itu melangkah menuju lemari dan membuka pintunya, mencari-cari keberadaan sapu tangan selama beberapa menit. Setelah mendapat barang yang di cari, ia bergegas ke dapur dan kembali dengan satu baskom berisi air hangat.</p>

<p>“Ini gue izin duduk di sini gapapa kan, El?” Tanya Assa ketika ia hendak duduk di pinggiran kasur dan dibalas anggukan pelan oleh Gael. Ia menyuruh Gael mendekat agar memudahkan pekerjaannya. Gadis itu membersihkan dengan sangat pelan karena Gael sesekali meringis kesakitan.</p>

<p>Tidak ada pertanyaan apapun yang keluar dari mulut Assa walaupun sebenarnya ia sudah ingin melontarkan beberapa yang terlintas di kepalanya. Gael menatap mata Assa yang sedang fokus pada area bibirnya. Assa yang merasa di perhatikan berpura-pura berdeham kecil karena suasana yang terlalu canggung.</p>

<p>Gadis itu meletakkan wadah berisi air hangat tadi dan sapu tangan di nakas yang berada di sebelahnya. Ia menyentuh kening Gael untuk ke dua kalinya, masih sangat panas. “Makan, ya?” Nada bicaranya sangat lembut, namun Gael hanya diam saja.</p>

<p>“Sakit.” Satu kata itu keluar dari mulut Gael, Assa tidak tahu <em>sakit</em> apa yang Gael maksud.</p>

<p>Netra keduanya bertemu, Gael meraih tangan Assa dan meletakkannya di pipi kanannya. “Sakit.” Ucapnya lagi, suaranya serak dan lemah. Tanpa sadar, ibu jari Assa bergerak di atas pipi Gael, mengelusnya pelan.</p>

<p>“Gue ditampar sama ayah....” Assa jelas terkejut mendengarnya, namun ia tidak berniat bertanya apapun. Ia hanya ingin membiarkan Gael mengatakan apa yang ingin lelaki itu katakan.</p>

<p>“Sakit.” Kata itu keluar untuk yang ketiga kalinya, Assa masih terdiam dengan tatapan yang terkunci pada netra cokelat di depannya.</p>

<p>“Gue juga ditampar sama Adel....” Tidak ada emosi dalam nada bicaranya, Assa dapat merasakan itu. “Sakit, Sa. Sakit banget.”</p>

<p>Entah mengapa gadis itu merasa bahwa <em>“sakit”</em> yang Gael maksud bukan yang ia rasakan di pipinya, tapi <em>“sakit”</em> yang dimaksud adalah sakit di hatinya.</p>

<p>Mata yang sedari tadi Assa tatap kini mulai basah. Ibu jari Assa berpindah ke sudut bibir Gael yang sedikit terluka dan mengelusnya pelan. Tatapan mereka kembali bertemu, Assa tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada laki-laki ini. Tapi suara serak dan mata kemerahannya menjadi tanda bahwa ia pasti menangis untuk wakta yang lama. Beberapa gitar yang tergeletak di lantai dengan keadaan rusak juga sepertinya karena laki-laki itu membantingnya...? Mungkin, atau memukulnya, bisa jadi.</p>

<p>Assa merasakan punggung tangannya basah karena setetes cairan bening yang keluar dari mata Gael jatuh di sana. Entah mendapat keberanian dari mana, gadis itu langsung menarik Gael ke dalam dekapannya. Assa memeluk Gael, tangan kirinya mengusap belakang kepala cowok itu berusaha menenangkan.</p>

<p>“It&#39;s okay to cry..., it&#39;s totally okay.”</p>

<p>Lelaki itu melingkarkan kedua tangannya di pinggang Assa, mencoba mencari kenyamanan di sana.</p>

<p>“Di sini aja ya, Sa.” Ucap Gael yang masih memeluk Assa. “Malem ini, di sini aja. <em>Please.”</em></p>

<p>“Iya, gue disini kok. Nggak kemana-mana.”</p>

<p>Malam itu, Gael merasa sedikit lebih tenang setelah tiga hari mengurung dirinya di kamar. Ia benar-benar tidak keluar apartemen selama tiga hari kemarin, bahkan ia hanya makan satu kali dan sisanya cowok itu hanya mengisi perutnya dengan sebotol air mineral.</p>

<p>Ia bahkan tidak tertidur dengan tenang, pikirannya di hantui oleh rasa kecewa dan berbagai pertanyaan perihal kejadian bersama bunda dan Adel kamis malam lalu. Ia bahkan mengnonaktifnkan ponselnya, sebelum akhirnya satu nama terlintas di kepalanya, Assa. Gael mengabaikan belasan pesan dan panggilan tak terjawab yang masuk, hal pertama yang ia lakukan adalah mencari kontak Assa, mengirimnya dua bubble pesan dan langsung menonaktifkannya kembali.</p>

<p>Perempuan yang sering berada di pikirannya selama lebih dari tiga bulan terakhir. Gael meminta Assa datang, dan gadis itu benar-benar datang. Kini, di pelukkan Assa, Gael merasa nyaman, Gael merasa lebih tenang, he really feels so much better.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://gratialuna.writeas.com/205-kswj</guid>
      <pubDate>Mon, 07 Feb 2022 03:33:38 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>191</title>
      <link>https://gratialuna.writeas.com/191?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[  tw // family issues&#xA;&#xA;Pukul 21:40, Gael mengendarai motornya dengan kecepatan yang cukup tinggi. Ia memutuskan untuk tidur di rumah malam ini. Ia tidak mempunya jadwal atau hari khusus untuk pulang ke rumahnya, lelaki itu akan pulang jika ia ingin pulang. Biasanya antara dua sampai tiga kali dalam seminggu. Itupun hanya ia gunakan untuk tidur di malam hari dan memakan sarapan buatan bundanya di pagi hari, setelah itu ia akan kembali berangkat kuliah. &#xA;&#xA;Gael suka suasana saat ia mengendarai motornya di malam hari, menggunakan helm fullface yang dengan sengaja kacanya ia biarkan terbuka. &#xA;&#xA;Ada banyak hal di dunia ini yang berjalan tidak sesuai dengan keinginananya. Terkadang, ia tidak ingin mengingat beberapa kejadian di hidupnya. Termasuk fakta bahwa ia belum bertemu dengan ayahnya selama satu tahun kebelakang. Satu hal yang ia sukai saat mengendarai motor di malam hari adalah, memori-memori indah bersama sang ayah akan berputar di kepalanya. Meski ia juga harus menerima fakta bahwa sekarang ia sangat membenci orang tersebut. &#xA;&#xA;Gael mulai melambatkan kecepatan motor yang ia kendarai saat memasuki komplek perumahan. Hampir jam sepuluh malam, sudah lumayan sepi. Tatapan matanya lurus ke depan, lima puluh meter sebelum tepat di depan rumahnya, Gael melihat mobil sedan yang tidak asing terparikir di depan gerbang rumah. Jari-jarinya melemas saat itu juga, ia memarkirkan motornya tepat di depan mobil itu. &#xA;&#xA;Lelaki itu melepas helm dan mencabut kunci motor, kakinya langsung melangkah masuk ke dalam rumah karena pintu yang terbuka lebar. &#xA;&#xA;&#34;Bunda...?&#34; Panggil Gael saat ia melihat Sekar berdiri mematung di anak tangga paling bawah, berhadapan dengan seorang wanita yang mengenakan dress hitam selutut. &#xA;&#xA;Wanita itu menoleh kala mendengar suara Gael. &#34;Hai...?&#34; Sapanya tanpa merasa berdosa. Jemari Gael langsung mengepal saat itu juga. &#xA;&#xA;&#34;Lo ngapain disini?&#34; Tatapan Gael menusuk ke dalam iris mata Santi. Iya, wanita itu bernama Santi, wanita simpanan ayahnya itu bernama Santi. &#xA;&#xA;&#34;Nganterin ayah kamu ambil baju. Sama pengen ketemu bunda kamu juga, sih.&#34; Wanita yang sepuluh tahun lebih muda dari Sekar itu berujar angkuh, membuat emosi Gael memuncak. &#xA;&#xA;&#34;El, udah kamu masuk kamar aja, nak.&#34; Sekar berjalan menghampiri Gael. namun ketika ia melewati Santi, dengan sangat sengaja wanita itu mengarahkan kakinya yang mengenakan high heels tujuh senti itu ke arah Sekar yang sedang berjalan. &#34;Upsssss.&#34; &#xA;&#xA;&#34;ANJING!!&#34; Teriak Gael penuh amarah saat bundanya terjatuh di depan Santi. Lelaki itu segera menghampiri Sekar dan membantunya berdiri. Gael mengusap lutut sang bunda. &#xA;&#xA;&#34;Gapapa, El, gak ada yang sakit, kok.&#34; Ujarnya dengan senyum yang dipaksakan. &#xA;&#xA;Gael berdiri tepat di depan Santi, demi Tuhan, jika Santi adalah seorang laki-laki, Gael akan menghajarnya sampai sekarat sekarang juga. &#xA;&#xA;Tangannya terus mengepal menahan segala emosi, &#34;BANGSAT!!&#34; Gael memaki Santi tepat di depan wajahnya. &#34;Perempuan gak tau diri!&#34; Santi masih dengan wajah angkuhnya yang tidak berubah sama sekali sedari tadi. &#xA;&#xA;&#34;El, udah, nak.&#34; Sekar yang berada di belakang Gael menarik tangan putra bungsunya. &#34;Gak boleh ngomong kaya gitu, El.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Kasar banget sih omongannya, bunda kamu gak pernah ngajarin sopan santun, ya?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Diem, anjing!&#34; Presetan dengan fakta bahwa Santi adalah perempuan dan ia lebih tua dari dirinya, Gael benar-benar tidak perduli akan hal itu. Siapa yang akan diam saja ketika ibunya diperlakukan seperti itu? &#xA;&#xA;&#34;Bunda bilang berhenti, Gael Keegan!&#34; Seru Sekar dengan nada yang meninggi namun Gael tidak memperdulikan ucapan bundanya, masih saja melayangkan kilat amarah kepada Santi. &#xA;&#xA;&#34;Eh kata bunda kamu gak boleh kasar sama perempuan tauukkk. Masa kamu maki-maki saya, sih?&#34; &#xA;&#xA;Gael menunjuk wajah santi dengan jari telunjuknya. &#34;Lo bukan perempuan, lo itu iblis!&#34; &#xA;&#xA;&#34;GAEL!!&#34; Suara bariton dari lantai dua mengejutkan ketiga orang yang sedang berhadapan itu. &#xA;&#xA;Andre menuruni anak tangga dengan menenteng dua buah koper di masing-masing tangannya. &#xA;&#xA;&#34;Ayahhh please kenapa dibawa semua baju-bajunya? Kenapa gak ada yang disisain ayahhhhhhh?!?!&#34; Adel mengekori Andre di belakangnya dengan mata memerah karena menangis. &#xA;&#xA;Lelaki itu tidak memperdulikan anak perempuan satu-satunya. Sorot matanya melayangkan tatapan kemarahan pada Gael. &#xA;&#xA;Lelaki berusia 52 tahun itu berhenti tepat di antara Gael dan Santi. &#34;Kamu barusan bilang apa ke dia?!&#34; &#xA;&#xA;Tidak menyangka bahwa Gael akan menerima tatapan itu dari sang ayah, Gael tidak pernah mengira bahwa ayahnya akan semarah itu kepadanya. Gael tidak pernah mengira jika hal ini akan terjadi padanya. &#xA;&#xA;Tatapan yang dulu selalu menjadi tempat baginya merasa aman, kini malah menjadi tatapan yang sangat mengerikan, Gael membencinya demi apapun. &#xA;&#xA;&#34;JAWAB!!!!!!&#34; Adel, Sekar, dan Santi terlonjak kaget saat mendengar teriakan Andre barusan. &#xA;&#xA;Sementara Gael tidak gentar, ia juga melayangkan tatapan tajam kepada sang Ayah. Matanya memerah menahan segala luapan emosi dan rasa kecewa secara bersamaan. &#xA;&#xA;&#34;Perempuan murahan, gak tahu dir—&#34; Andre menampar keras pipi kanan Gael sebelum ia sempat menyelesaikan kalimatnya. &#xA;&#xA;Adel secara reflek menutup mulutnya, &#34;Ayah....&#34; panggilnya pelan, sangaaaat pelan hingga ia sendiri pun tidak dapat mendengarnya. &#xA;&#xA;Sekar langsung menghampiri Gael dan mengusap darah yang keluar dari sudut bibir anak itu. Ia menatap Andre tidak percaya, sang ayah rela menampar anaknya dengan sangat keras demi membela wanita simpanan yang bukan bagian dari keluarga mereka. &#xA;&#xA;Andre menunjuk Gael yang masih dalam posisi tersungkur. &#34;Anak tidak punya sopan santun.&#34; Setelah mengatakan kalimat barusan, Andre merangkul pinggang Santi dan mengajaknya untuk bergegas keluar dari rumah tersebut. &#xA;&#xA;Gael meringis menahan perih akibat ujung bibirnya yang berdarah. &#34;El..., bunda minta maaf, ini gara-gara bunda.&#34; Satu tetes cairan bening turun dari mata Sekar, ia hendak memeluk anak laki-lakinya namun Gael menahan tangan sang bunda. &#xA;&#xA;&#34;Bunda kenapa diem aja sih?! Harusnya bunda marah, bunda marah sama dua manusia tadi, bunda harusnya gak diem aja. Kenapa bunda selalu nahan emosi buat menusia gak tahu diri kaya mereka?!&#34; Nada bicaranya meninggi, membuat Sekar dan Adel terkejut karena ini adalah kali pertama Gael berbicara dengan nada tinggi seperti itu. &#xA;&#xA;&#34;El....&#34; &#xA;&#xA;&#34;Bisa gak sih bunda pukul ayah? Bunda maki-maki ayah? Bisa gak bunda marah sama selingkuhan ayah? Bunda gak harus diem aja, kalo bunda lemah kaya gini, mereka bakalan semena-mena ke bunda. Kalo emang bunda gak bisa—&#34; &#xA;&#xA;&#34;Gael lo apa-apaan sih?! Kenapa jadi marah-marah ke bunda? Lo gak liat keadaan bunda apa gimana? Tolol banget jadi anak!!&#34; Adel memotong kalimat Gael sebelumnya dengan nada yang juga penuh emosi. Menurut Adel, adiknya ini sudah sangat keterlaluan. &#xA;&#xA;&#34;Udah, Adel Gael, gak usah bernatem.&#34; &#xA;&#xA;Gael berdiri dari posisinya tadi, berjalan menghampiri Adel. &#34;Iya, gue emang tolol.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Gael bunda bilang udah ya udah!! Kamu keterlaluan tahu nggak? Bunda gak pernah ngajarin kamu ngomong kasar apalagi maki-maki kaya tadi. Kamu sadar nggak, sih? Tadi kamu maki-maki perempuan? Dia lebih tua dari kamu, harusnya kamu bisa nahan emosi, El!!&#34; &#xA;&#xA;Anak laki-laki itu terkejut mendengar kalimat bundanya, &#34;jadi bunda nyalahin El?&#34; &#xA;&#xA;&#34;IYALAH, PAKE NANYA!!&#34; Bentak Adel tepat di depan wajah Gael. &#34;Lo udah jelas-jelas salah, bunda gak pernah ngajarin lo buat ngomong kasar, tadi lo keterlaluan tahu nggak? Lo kaya bocah nggak punya tata krama!!!&#34; &#xA;&#xA;Lelaki itu menghela nafas kasar, lalu kembali menyengka darah yang masih keluar dari sudut bibirnya. &#xA;&#xA;&#34;Gue habis ditampar sama ayah, Del. Dan lo sama sekali nggak perduli sama hal itu, lo malah bentak-bentak gue padahal gue cuma pangen ngelindungin bunda. Lagian bunda kenapa masih bertahan sama ayah padahal udah jelas ayah selingkuh? Kenapa gak pisah aja?&#34; &#xA;&#xA;Sesaat setelah Gael mengatakan kalimat barusan, satu tamparan yang cukup keras kembali mendarat di pipi kanannya. Adel menamparnya, Adel menampar pipinya demgan cukup keras. &#xA;&#xA;&#34;ADEL!!&#34; Pekik Sekar terkejut dengan tindakan anak sulungnya kepada adiknya itu. &#xA;&#xA;Gael memegang pipinya yang memerah dan menatap kakaknya tidak menyangka. Ketika Sekar hendak meraih tangannya, cowok itu berlalu begitu saja meninggalkan kedua perempuan itu di dalam rumah. Gael mengendarai motornya dengen kecepatan di atas rata-rata tanpa memperdulikan kemungkinan-kemungkinan buruk yang akan terjadi padanya. &#xA;&#xA;Ia hanya ingin melindungi bunda dan kakak perempuannya, tapi mengapa mereka malah menyalahkan dirinya seolah-olah semua yang ia lakukan adalah kesalahan? Bahkan tidak ada yang perduli bahwa Gael baru saja ditampar dengan keras hingga sudut bibirnya berdarah oleh Andre. Yang sangat dikagetkan adalah fakta kalau Adel memperparah sobekan kecil yang ada di sudut bibirnya. &#xA;&#xA;Bunda juga melakukan hal di luar dugaan Gael, bunda menyalahkan Gael. Padahal niat anak itu hanya ingin melindungi bundanya, apakah ia salah? Mengapa semua orang menyalahkannya?]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>tw // family issues</p></blockquote>

<p>Pukul 21:40, Gael mengendarai motornya dengan kecepatan yang cukup tinggi. Ia memutuskan untuk tidur di rumah malam ini. Ia tidak mempunya jadwal atau hari khusus untuk pulang ke rumahnya, lelaki itu akan pulang jika ia ingin pulang. Biasanya antara dua sampai tiga kali dalam seminggu. Itupun hanya ia gunakan untuk tidur di malam hari dan memakan sarapan buatan bundanya di pagi hari, setelah itu ia akan kembali berangkat kuliah.</p>

<p>Gael suka suasana saat ia mengendarai motornya di malam hari, menggunakan helm fullface yang dengan sengaja kacanya ia biarkan terbuka.</p>

<p>Ada banyak hal di dunia ini yang berjalan tidak sesuai dengan keinginananya. Terkadang, ia tidak ingin mengingat beberapa kejadian di hidupnya. Termasuk fakta bahwa ia belum bertemu dengan ayahnya selama satu tahun kebelakang. Satu hal yang ia sukai saat mengendarai motor di malam hari adalah, memori-memori indah bersama sang ayah akan berputar di kepalanya. Meski ia juga harus menerima fakta bahwa sekarang ia sangat membenci orang tersebut.</p>

<p>Gael mulai melambatkan kecepatan motor yang ia kendarai saat memasuki komplek perumahan. Hampir jam sepuluh malam, sudah lumayan sepi. Tatapan matanya lurus ke depan, lima puluh meter sebelum tepat di depan rumahnya, Gael melihat mobil sedan yang tidak asing terparikir di depan gerbang rumah. Jari-jarinya melemas saat itu juga, ia memarkirkan motornya tepat di depan mobil itu.</p>

<p>Lelaki itu melepas helm dan mencabut kunci motor, kakinya langsung melangkah masuk ke dalam rumah karena pintu yang terbuka lebar.</p>

<p>“Bunda...?” Panggil Gael saat ia melihat Sekar berdiri mematung di anak tangga paling bawah, berhadapan dengan seorang wanita yang mengenakan dress hitam selutut.</p>

<p>Wanita itu menoleh kala mendengar suara Gael. “Hai...?” Sapanya tanpa merasa berdosa. Jemari Gael langsung mengepal saat itu juga.</p>

<p>“Lo ngapain disini?” Tatapan Gael menusuk ke dalam iris mata Santi. Iya, wanita itu bernama Santi, wanita simpanan ayahnya itu bernama Santi.</p>

<p>“Nganterin ayah kamu ambil baju. Sama pengen ketemu bunda kamu juga, sih.” Wanita yang sepuluh tahun lebih muda dari Sekar itu berujar angkuh, membuat emosi Gael memuncak.</p>

<p>“El, udah kamu masuk kamar aja, nak.” Sekar berjalan menghampiri Gael. namun ketika ia melewati Santi, dengan sangat sengaja wanita itu mengarahkan kakinya yang mengenakan high heels tujuh senti itu ke arah Sekar yang sedang berjalan. <em>“Upsssss.”</em></p>

<p>“ANJING!!” Teriak Gael penuh amarah saat bundanya terjatuh di depan Santi. Lelaki itu segera menghampiri Sekar dan membantunya berdiri. Gael mengusap lutut sang bunda.</p>

<p>“Gapapa, El, gak ada yang sakit, kok.” Ujarnya dengan senyum yang dipaksakan.</p>

<p>Gael berdiri tepat di depan Santi, demi Tuhan, jika Santi adalah seorang laki-laki, Gael akan menghajarnya sampai sekarat sekarang juga.</p>

<p>Tangannya terus mengepal menahan segala emosi, “BANGSAT!!” Gael memaki Santi tepat di depan wajahnya. “Perempuan gak tau diri!” Santi masih dengan wajah angkuhnya yang tidak berubah sama sekali sedari tadi.</p>

<p>“El, udah, nak.” Sekar yang berada di belakang Gael menarik tangan putra bungsunya. “Gak boleh ngomong kaya gitu, El.”</p>

<p>“Kasar banget sih omongannya, bunda kamu gak pernah ngajarin sopan santun, ya?”</p>

<p>“Diem, anjing!” Presetan dengan fakta bahwa Santi adalah perempuan dan ia lebih tua dari dirinya, Gael benar-benar tidak perduli akan hal itu. Siapa yang akan diam saja ketika ibunya diperlakukan seperti itu?</p>

<p>“Bunda bilang berhenti, Gael Keegan!” Seru Sekar dengan nada yang meninggi namun Gael tidak memperdulikan ucapan bundanya, masih saja melayangkan kilat amarah kepada Santi.</p>

<p>“Eh kata bunda kamu gak boleh kasar sama perempuan tauukkk. Masa kamu maki-maki saya, sih?”</p>

<p>Gael menunjuk wajah santi dengan jari telunjuknya. “Lo bukan perempuan, lo itu iblis!”</p>

<p>“GAEL!!” Suara bariton dari lantai dua mengejutkan ketiga orang yang sedang berhadapan itu.</p>

<p>Andre menuruni anak tangga dengan menenteng dua buah koper di masing-masing tangannya.</p>

<p>“Ayahhh please kenapa dibawa semua baju-bajunya? Kenapa gak ada yang disisain ayahhhhhhh?!?!” Adel mengekori Andre di belakangnya dengan mata memerah karena menangis.</p>

<p>Lelaki itu tidak memperdulikan anak perempuan satu-satunya. Sorot matanya melayangkan tatapan kemarahan pada Gael.</p>

<p>Lelaki berusia 52 tahun itu berhenti tepat di antara Gael dan Santi. “Kamu barusan bilang apa ke dia?!”</p>

<p>Tidak menyangka bahwa Gael akan menerima tatapan itu dari sang ayah, Gael tidak pernah mengira bahwa ayahnya akan semarah itu kepadanya. Gael tidak pernah mengira jika hal ini akan terjadi padanya.</p>

<p>Tatapan yang dulu selalu menjadi tempat baginya merasa aman, kini malah menjadi tatapan yang sangat mengerikan, Gael membencinya demi apapun.</p>

<p>“JAWAB!!!!!!” Adel, Sekar, dan Santi terlonjak kaget saat mendengar teriakan Andre barusan.</p>

<p>Sementara Gael tidak gentar, ia juga melayangkan tatapan tajam kepada sang Ayah. Matanya memerah menahan segala luapan emosi dan rasa kecewa secara bersamaan.</p>

<p>“Perempuan murahan, gak tahu dir—” Andre menampar keras pipi kanan Gael sebelum ia sempat menyelesaikan kalimatnya.</p>

<p>Adel secara reflek menutup mulutnya, “Ayah....” panggilnya pelan, sangaaaat pelan hingga ia sendiri pun tidak dapat mendengarnya.</p>

<p>Sekar langsung menghampiri Gael dan mengusap darah yang keluar dari sudut bibir anak itu. Ia menatap Andre tidak percaya, sang ayah rela menampar anaknya dengan sangat keras demi membela wanita simpanan yang bukan bagian dari keluarga mereka.</p>

<p>Andre menunjuk Gael yang masih dalam posisi tersungkur. “Anak tidak punya sopan santun.” Setelah mengatakan kalimat barusan, Andre merangkul pinggang Santi dan mengajaknya untuk bergegas keluar dari rumah tersebut.</p>

<p>Gael meringis menahan perih akibat ujung bibirnya yang berdarah. “El..., bunda minta maaf, ini gara-gara bunda.” Satu tetes cairan bening turun dari mata Sekar, ia hendak memeluk anak laki-lakinya namun Gael menahan tangan sang bunda.</p>

<p>“Bunda kenapa diem aja sih?! Harusnya bunda marah, bunda marah sama dua manusia tadi, bunda harusnya gak diem aja. Kenapa bunda selalu nahan emosi buat menusia gak tahu diri kaya mereka?!” Nada bicaranya meninggi, membuat Sekar dan Adel terkejut karena ini adalah kali pertama Gael berbicara dengan nada tinggi seperti itu.</p>

<p>“El....”</p>

<p>“Bisa gak sih bunda pukul ayah? Bunda maki-maki ayah? Bisa gak bunda marah sama selingkuhan ayah? Bunda gak harus diem aja, kalo bunda lemah kaya gini, mereka bakalan semena-mena ke bunda. Kalo emang bunda gak bisa—”</p>

<p>“Gael lo apa-apaan sih?! Kenapa jadi marah-marah ke bunda? Lo gak liat keadaan bunda apa gimana? Tolol banget jadi anak!!” Adel memotong kalimat Gael sebelumnya dengan nada yang juga penuh emosi. Menurut Adel, adiknya ini sudah sangat keterlaluan.</p>

<p>“Udah, Adel Gael, gak usah bernatem.”</p>

<p>Gael berdiri dari posisinya tadi, berjalan menghampiri Adel. “Iya, gue emang tolol.”</p>

<p>“Gael bunda bilang udah ya udah!! Kamu keterlaluan tahu nggak? Bunda gak pernah ngajarin kamu ngomong kasar apalagi maki-maki kaya tadi. Kamu sadar nggak, sih? Tadi kamu maki-maki perempuan? Dia lebih tua dari kamu, harusnya kamu bisa nahan emosi, El!!”</p>

<p>Anak laki-laki itu terkejut mendengar kalimat bundanya, “jadi bunda nyalahin El?”</p>

<p>“IYALAH, PAKE NANYA!!” Bentak Adel tepat di depan wajah Gael. “Lo udah jelas-jelas salah, bunda gak pernah ngajarin lo buat ngomong kasar, tadi lo keterlaluan tahu nggak? Lo kaya bocah nggak punya tata krama!!!”</p>

<p>Lelaki itu menghela nafas kasar, lalu kembali menyengka darah yang masih keluar dari sudut bibirnya.</p>

<p>“Gue habis ditampar sama ayah, Del. Dan lo sama sekali nggak perduli sama hal itu, lo malah bentak-bentak gue padahal gue cuma pangen ngelindungin bunda. Lagian bunda kenapa masih bertahan sama ayah padahal udah jelas ayah selingkuh? Kenapa gak pisah aja?”</p>

<p>Sesaat setelah Gael mengatakan kalimat barusan, satu tamparan yang cukup keras kembali mendarat di pipi kanannya. Adel menamparnya, Adel menampar pipinya demgan cukup keras.</p>

<p>“ADEL!!” Pekik Sekar terkejut dengan tindakan anak sulungnya kepada adiknya itu.</p>

<p>Gael memegang pipinya yang memerah dan menatap kakaknya tidak menyangka. Ketika Sekar hendak meraih tangannya, cowok itu berlalu begitu saja meninggalkan kedua perempuan itu di dalam rumah. Gael mengendarai motornya dengen kecepatan di atas rata-rata tanpa memperdulikan kemungkinan-kemungkinan buruk yang akan terjadi padanya.</p>

<p>Ia hanya ingin melindungi bunda dan kakak perempuannya, tapi mengapa mereka malah menyalahkan dirinya seolah-olah semua yang ia lakukan adalah kesalahan? Bahkan tidak ada yang perduli bahwa Gael baru saja ditampar dengan keras hingga sudut bibirnya berdarah oleh Andre. Yang sangat dikagetkan adalah fakta kalau Adel memperparah sobekan kecil yang ada di sudut bibirnya.</p>

<p>Bunda juga melakukan hal di luar dugaan Gael, bunda menyalahkan Gael. Padahal niat anak itu hanya ingin melindungi bundanya, apakah ia salah? Mengapa semua orang menyalahkannya?</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://gratialuna.writeas.com/191</guid>
      <pubDate>Mon, 07 Feb 2022 03:22:57 +0000</pubDate>
    </item>
  </channel>
</rss>