200
“eh itu suaminya raline bukan sih?” “iya ih ganteng banget” “tapi denger denger mereka gak akur ya??” “iya katanya mereka kan dijodohin“ “hah dijodohin? demi apasih?!
dan masih banyak lagi. iya, itu adalah bisikan— entah mereka berbisik atau sengaja mengatakannya saat adnan tiba di studio milik agensi raline.
adnan terus berusaha tidak memperdulikan semua tatapan yang orang-orang layangkan untuknya. kaki panjangnya melangkah ke arah ruangan raline— yang ia tahu dari seorang OB yang sempat ia temui tadi.
pintu ruangan itu terbuka dan menampilkan sosok tinggi mengenakan kemeja putih yang kedua lengannya sudah dilipat sebatas siku dengan celana hitamnya.
raline membelalakakan matanya dan langsung berdiri menghampiri adnan yang masih diam di depan pintu ruangan mereka yang terbuka.
tanpa di duga, adnan langsung meraih pinggang raline dan otomatis membuat raline mendelik kepada adnan. “apa-apaan sih?!” seolah tergambar lewat ekspresi wajah raline yang kini hanya berjarak beberapa senti dengan wajah adnan.
“dicari mamah” ujarnya dengan nada yang sangat rendah hingga membuat bulu kuduk raline meremang.
laras, manager raline dan beberapa orang disana hanya menatap keduanya dengan tatapan terkejut, pasalnya selama hampir satu bulan mereka menikah, baru kali ini keduaya terlihat bersama.
raline melepaskan tangan adnan yang berada di pinggangnya dan berusaha tersenyum pada adnan lalu berjalan menuju kursinya tadi.
“mba aku balik dulu yaa, ada urusan mendadak.” raline langsung mengemasi beberapa barangnya
“oh iya silakan, ini juga sebenernya udah mau pada pulang, kok.” jam sudah menunjukkan pukul 9 malam, memang harusnya raline sudah boleh pulang sejak 1 jam lalu namun ia memilih untuk sekedar mengobrol disana dengan laras dan yang lain.
adnan kembali meraih pinggang raline ketika mereka pergi melengang keluar dari ruangan tadi. semua pasang mata yang sebenarnya sudah tidak banyak orang tersisa di studio itu mentap ke arah keduanya, raline berusaha melayangkan senyum kepada orang-orang yang ia lewati.
“ngapain sih pake pegang-pegang?!” adalah kalimat pertama yang raline ajukan pada adnan ketika mereka sudah sampai di dalam mobil.
“orang-orang tadi bilang, katanya kita nggak akur. saya nggak mau—”
“tapi kan kenyataannya kita emang gak akur.” raline memotong kalimat adnan yang belum sempat ia selesaikan.
“tapi saya nggak mau orang-orang tau tentang itu, mereka gak harus mengkonsumsi urusan pribadi kita.” tidak ada emosi di nada bicaranya barusan, lelaki itu hanya mengatakannya dengan gamang. sungguh, adnan tidak menginginkan keadaan seperti ini.
raline berdecak kesal, sebenarnya, iya, adnan ada benarnya. namun ia masih kesal karena perlakuan adnan di dalam studio tadi. entah kesal karena malu atau karena telalu berdebar berada di jarak sedekat tadi dengan adnan.
“mama ngapain manggil?” akhirnya raline memutuskan untuk mengganti topik pembicaraan mereka. adnan tampak menghela nafas sebentar, sebelum akhirnya memposisikan duduknya menghadap ke arah raline di sampingnya.
“nggak, maaf saya bohong. sebenarnya saya yang mau ngobrol sama kamu. kita beneran gak pernah ada ngobrol apa-apa raline. kita harus ngomongin ini, saya gak mau terus-terusan seperti ini. hubungan kaya gini gak sehat, kita harus ngobrolin tentang pernikahan kita, ra.” adnan benar-benar definisi lelaki tenang, raline sampai harus mengerjap beberapa kali karena nada dan suara adnan barusan.
namun raline adalah raline, beberapa detik kemudian ia langsung mendesis dan memalingkan wajahnya. “di awal kan gue udah bilang, jangan berharap apa-apa ke gue. gak ada yang perlu diomongin juga, kita emang menikah. tapi lo juga jangan lupa, kalo kita cuma di jodohin. jadi biarin kita tinggal di satu atap yang sama, tapi tetep urus aja urusan masing-masing. kita juga punya kerjaan yang harusnya nggak usah gue bilang, lo tau kalo lo nggak berhak ikut campur.”
“mama kamu—”
“nan. please, gue gamau ngomongin apa-apa lagi. let's act like a married couple in front of our parents and other people. more than that, mind your own business and i'll take care of mine.”